HeadlinesRagamSosial Budaya

Masyarakat dan Perubahan Iklim

12 Views

Medanesia.com – Tulisan ini di inspirasi dari “tajuk rencana” Kompas pada halaman enam, yang terbit pada hari selasa tanggal 18 Mei 2019 dengan judul yang sama. Inti dari tajuk rencana Kompas itu adalah bahwa berdasarkan riset satu lembaga di Inggris yaitu YouGove, di sampaikan bahwa masyarakat Indonesia menempati peringkat pertama di dunia sebagai masyarakat yang tidak percaya bahwa faktor utama pemanasan global adalah perbuatan manusia. Sehingga bisa disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia sangat rendah pemahamannya tentang pemanasan global, tidak menganggap penting atau masa bodoh terkait isu pemanasan global, bisa juga menganggap isu pemanasan global hanya buang-buang waktu, dan akhirnya tak perlu bertanggungjawab untuk mengurangi pemanasan global, sehingga isu itu cukup ditangani negara-negara maju saja karena negara maju juga penyebab utama pemanasan global.

Namun, bagi penulis riset YouGove itu sangat penting dicermati, setidaknya untuk melihat apa yang sesungguhnya dipikirkan dan dipahami oleh orang Indonesia terkait dengan isu pemanasan global. Bisa disimpulkan bahwa isu pemanasan global (global warming) tidak populer di Indonesia, dan tidak pernah menjadi isu sentrum ditengah masyarakat. Kalah jauh dengan isu politik, semisal Pilpres, Pileg, Pilkada, Penangkapan Koruptor, isu bahaya Komunis, bahaya program OBOR China, anti Syiah sampai dengan anti Wahabi. Isu-isu seputar politik kekuasaan, agama, ekonomi maupun budaya masih dominan diminati dan dijadikan referensi dalam percakapan orang Indonesia.

Isu lingkungan bisa disimpulkan tidak menjadi menu utama bagi pemerintah, bagi pers-media, bagi perguruan tinggi, maupun bagi pemerhati sosial dan politik. Mungkin isu lingkungan dan pemanasan global ini hanya dibicarakan disekitar lingkungan pegiat sosial saja yang betul betul mendediaksikan ilmu dan pekerjaannya pada isu lingkungan. Selebihnya, banyak orang tak berminat sama sekali dengan lingkungan disekitar mereka yang sungguh-sungguh sudah rusak parah dan pastinya sedang mengancam kehidupan mereka sendiri.

Sebagai fakta, Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kerusakan hutan yang terbesar di dunia. Pembalakan liar terjadi di sejumlah kawasan hutan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Bisnis kayu glondongan sangat massif. Dan banyak pejabat dan orang kaya lahir dari hasil pembalakan hutan-hutan di sejumlah Pulau di Indonesia. Membakar hutan adalah pekerjaan yang “sudah biasa” di Indonesia, meski ada larangan tapi tetap tidak bisa menghentikan. Perubahan hutan hujan tropik yang terbaik di dunia menjadi ladang sawit yang monokultur yang hanya menguntungkan bagi pembalak hutan dan menguntungkan bagi perusahaan kelapa sawit sudah dimaklumi dan dianggap wajar.

Bahkan perilaku sehari-hari yang betul-betul tidak ramah terhadap lingkungan kerap masih dianggap enteng seperti membuang sampah sembarangan, membuat arang dari akar hutan bakau, membakar hutan untuk bercocok tanam, mencintai sawit, mencintai karet, dan takut kepada hutan karena asumsinya banyak “hantu” dihutan, telah hidup dan berkembang dalam lingkungan sosial kita. Jadi bisa dipastikan, hampir semua stakeholder yang ada disekitar lingkungan dan pemanasan global, tidak bergeming sedikitpun terhadap upaya untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang lebih parah.

Satu statement yang paling menarik dari simpulan riset YouGove itu adalah, bahwa orang-orang Indonesia tak percaya bahwa manusialah yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan global. Aneh bin ajaib. Apakah ini berarti orang Indonesia percaya bahwa hewanlah sebagai pelaku utama pemanasan global? Atau, apakah sama sekali tak masuk akal jika pemanasan global itu dibuat oleh orang Indonesia?

Lebih jauh, mungkin saja kalau kita tanya kepada orang Indonesia tentang pemanasan global, mereka akan menjawab justru mereka sedang melakukan pelestarian hutan dan menjaga hutan-hutan di Indonesia. Intinya, kalau kita tanya tentang kerusakan, semua orang justru akan menjawab justru mereka sedang berbuat kebaikan. Wau…mantab! Dengan asumsi itu, menjadi wajar jika periset YouGove bertanya tentang kerusakan lingkungan, pemanasan global, kepada respondennya yang berasal dari Indonesia, mereka akan dengan percaya diri menjawab…oh kami justru sedang merawat lingkungan dunia.

Secara logis, satu hal yang pasti logis dalam kaitannya dengan kerusakan lingkungan dan pemanasan global adalah, semua itu hasil perbuatan tangan tangan manusia! Tidak mungkin burung, ikan, gajah, ular ramai-ramai buat gergaji dan ambil sinso menebang hutan di Sumatera, Kalimantan atau Papua. Belum pernah ada sejarah, bainatang buat perkebunan kepala swait sekaligus buat pabrik sawit dan menjual minyaknya ke pasar Eropa. Intinya, perusak lingkungan global ini ya Manusia, dan orang Indonesia adalah Manusia, sehingga orang Indonesia ikut merusak lingkungan global. Setidkanya dengan tidak memikirkan kerusakan lingkungan global itu adalah salah satu bentuk perusakan yang nyata atas lingkungan global itu sendiri.

Penulis : H. Dadang Darmawan, M.Si