HeadlinesKelas FilsafatSosial Budaya

Mengenal Filsafat Barat Dan Filsafat Timur

42 Views

Medanesia.com – Pemikiran Timur seringkali dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak empiris, tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan anggapan bahwa “pemikiran Timur bukan dianggap sebagai filsafat”. Sifat-sifat pengetahuan secara konvensional dipandang harus ada dan berasal dari filsafat. Sedangkan pemikiran Timur dianggap tidak berasal dari filsafat, akan tetapi bersumber dari “kepercayaan atau agama”. Oleh karenanya pemikiran-pemikiran Timur lebih ditempatkan sebagai kepercayaan atau agama, ketimbang sebagai filsafat. Dalam studi post kolonial bahkan ditemukan bahwa filsafat Timur dianggap lebih rendah ketimbang sistem pemikiran Barat karena tidak memenuhi kriteria filsafat menurut filsafat Barat, misalnya karena dianggap memiliki unsur keagamaan atau mistik Richard King (1999). Kemudian Lasiyo (Maret 1997) dalam artikelnya Pemikiran Filsafat Timur dan Barat: Studi Komparatif, mengemukakan bahwasanya Barat menganggap Timur itu identik degan miskin, bodoh, statis, fatalis, dan kontemplatif. Sementara dalam perspekttif Timur, Barat sering digambarkan sebagai materialisme, kapitalisme, rasionaIisme, dinamisme, saintisme, positivisme dan sekularisme.

Dinamakan Filsafat Timur, sebenarnya untuk menyebut pemikiran-pemikiran filosofi yang berasal dari Timur atau kawasan Asia. Filsafat Timur berkembang mengikuti basis geografis dan sistem kepercayaan tertentu, sehingga kita mengenal adanya Filsafat Islam, Filsafat India, Filsafat China, Filsafat Nusantara, dan sebagainya. Yang mana masing-masing dari jenis filsafat tersebut adalah merupakan sebuah sistem pemikiran yang luas, dalam, dan plural. Filsafat Hindu dan Filsafat Budha menjadi basis utama dalam sistem pemikiran Filsafat India (Surendranath Dasgupta, 2004). Filsafat China mendapatkan pengaruh dari Filsafat Konfusius dan Tao (Fung Yu Lan, 1966). Di wilayah kita sendiri, Nusantara, banyak dikenal pemikiran filosofis berbasis etnis dan kedaerahan, seperti Filsafat Jawa, Filsafat Bugis, Filsafat Batak, Filsafat Minang, dan sebagainya.

Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalan, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadapat kearifan atau kebijakan (Endang Saifuddin Ansori, 1981). Filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendakilah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.

Harold Titus  (1984) mengemukakan pengertian filsafat sebagai sikap hidup dan alam semesta; suatu metode berpikir rekflektif dan penelitian penalaran; uatu perangkat masalah-masalah; dan seperangkat teori dan sistem berpikir. Gazalba mengartikan flsafat sebagai berfikir secara radikal, hingga sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berpikir itu tidak separuh-paruh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai ke ujungnya. Berpikir sistemati adalah berpikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling hubungan yang teratur. Berpikir universal tidak berpikir khusus, yang hanya terbatas kepada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan (Sidi Gazalba, 1973).

Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan atau pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendaki lah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya maupun luar dirinya.  Dengan demikian berfilsafat itu merupakan salah satu kegiatan pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menmukan eksistensinya. Dalam kegiatan ini manusia akan berusaha untuk mencapai kearifan dan kebajikan. Kearifan merupakan buah yang dihasilkan filsfar dari usaha mencapai hubungan-hubungan antara berbagai pengetahuan, dan menentukan implikasinya baik secara yang tersurat maupun yang tersirat dalam kehidupan.

Objek Filsafat

Objek formal yang menjadi pokok persoalan dan menjadi pembahasan dalam filsafat terdiri dari tiga macam, yaitu hakekat hakikat tuhan, hakikat Alam, dan hakikat manusia. Sedangkan objek material dari filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal, berkenaan dengan objek materi filsafat (Endang Saifuddin Ansori, 1981).  Dalam filsafat ilmu, terdapat tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi  (Jujun Suriasumantri, 1993).

Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani “on  berarti being”,  dan “logos  berarti  ilmu”. Dengan demikian ontololgi dapat diartikan sebagai  ilmu yang membahas tentang keberadaan sebagaimana adanya (the theory  of  being  qua  being ) atau ilmu tentang yang  ada. Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang  hakikat   yang  ada, yang  merupakan “ultimate reality”, baik yang berbentuk jasamani/konkret maupun rohani/abstrak. Termiontologi ini  pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf’ Goclenius  pada tahun 1636 M (Amsal Bahtiar, 2004). Sedangkan Yuyun Suriasumantri (1993) mengartikan ontologi sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari objek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan.

Epistemoiogi sebagai cabang filsafat secara khusus membahas tentang teori ilmu pengetahuan. Terdapat tiga persoalan  pokok dalam bidang ini: (1) Apakah  sumber sumber  pengetahuan   itu?  Dari  manakah  pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui  ? ini  adalah  persoalan   tentang   “asal”  pengetahuan;   (2) apakah watak pengetahuan  itu? Apakah ada dunia yang benar-benar  diluar  pikiran  kita,  dan  kalau  ada  apakah kita dapat mengetahuinya?  Ipi ad,alah persoalan tentang:  apa  yang  kelihatan  versus  hakikatnya   (reality);  dan (3) Apakah pengetahuan  kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah   tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi pokok (Ahmad Tafsir, 2004). Sedangkan menurut Jujun Suriasumantri (1993), epistemologi diartikan sebagai cabang filsafat yang membahas tentang cara tata cara bagaimana ‘untuk mendapatkan  pengetahuan; yang  dalam  kegiatan  keilmuan   yang  disebut  dengan metode ilmiah. Jadi epistemologi membahas tentang bagaimana syarat-syarat yang memungkinkan seseorang itu dapat tahu.

Aksiologi   berasal   dari  perkataan Yunani “axios  yang  berarti  nilai”  dan “logos  yang  berart yang berarti ilmu. Dengan demikian, aksiologi  adalah merupakan ilmu tentang nilai (Amsal Bahtiar, 2004). Sedangkan pengertian aksiologi menurut Jujun  Suriasumantri (1993) adalah teori, nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya, ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi dan menguasai sesama manusia. Menghadapi  kenyataan  seperti  ini, ilmu  yang  pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan  hal-hal  yang  bersifat  seharusnya:  untuk apa sebenamya ilmu itu harus dipergunakan?, dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? kearah mana perkembangan  keilmuan  harus  dia.rahkan?. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang dalam perkembangan selanjutnya memunculkan gagasan bahwasanya “ilmu itu tidak bersifat netral”. Hal inilah muncul pemikiran tentang adanya Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dengan tokoh utamanya Ismail Razi Al-Faruqi (1974).

Hikmah Dari Timur

Filsafat Timur memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan filsafat Barat, yang mana ciri-ciri agama dan kepercayaan lebih kental di dalam filsafat Timur. Dalam konteks ini, banyak ahli berdebat mengenai dapat atau tidaknya pemikiran Timur dikatakan sebagai filsafat. Dalam filsafat Barat, instrumen utama yang dijadikan sebagai alat untuk mencari kenyataan kebenaran adalah menggunakan nalar, yang bersumber dari akal pikiran dan indra. Pencarian yang radikal, luas, dan mendalam dari filsafat Barat menggunakan akal pikiran dan pengamatan empiris. Berbeda dengan filsafat Timur, lebih mengandalkan hati atau qolbu. Dalam filsafat Timur, pandangan hati menempati posisi tertinggi, setelah akal dan indra, sebagai perangkat utama untuk sampai kepada kenyataan akan kebenaran. Sementara filsafat Barat tidak menggunakan instrumen hati sebagai media penting untuk sampai kepada realitas tunggal atau kebenaran akhir.

Dalam kebudayaan Timur, pencapaian seseorang atas kenyataan kebenaran itu memiliki makna praktis dalam bentuk perubahan sikap dan perilaku. Perilu ini disebut sebagai “adab”, yaitu berupa norma dan aturan tertentu yang mengikat diri seseorang itu dalam melakukan perbuatan yang baik dan benar kepada sesama manusia, sesama makluk hidup, dan alam semesta. Juga didalamnya adab dalam menuntut ilmu, melalui adab yang baik dan benar dalam menuntut ilmu, seseorang akan dimudahkan dalam memahami dan mempelajari ilmu. Prosesi adab berguru yang baik itu dapat dirujuk dari kisah Bima berguru dengan Guru Durna. Kisah ini muat dalam “Serat Dewaruci”, menceritakan tentang bagaimana Bima mencari “air kehidupan”. Dalam kisah itu diceritakan bagaimana Bima dalam mencari air kehidupan itu, dilakukan dengan tekad yang bulat, patuh perintah guru, dan tidak menyerah, sekalipun Durna memberikan arahan yang salah dan justru ingin membunuh Bima.

Kedudukan adab, posisinya lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan. Ilmu dalam kerangka masyarakat Timur berimplikasi secara praktis pada perbuatan yaitu: perbuatan mulia, yang menyelamatkan sesama manusia, makhluk, dan alam semesta. Perbuatan yang baik dan benar, berupa budi pekerti atau akhlak yang baik (akhlakul karimah) adalah menjadi puncak pencapaian seseorang atas ilmu dan kebenaran. Dan kesempurnaan hidup seseorang itu terletak pada dalam akhlaknya, dan kehadiran para Nabi dan Rasul itu untuk memperbaiki akhlak. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi menerangkan bahwa “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Sedangankan kata “peradaban” berasal dari akar kata “adab” (bahasa Jawa Kawi), merupakan  peranakan dari bahasa Sangsekerta yang ucapannya adob yang berarti kesopanan, hormat- menghormati, budi bahasa, etiket, dan lain-lain. Di dalam bahasa Arab ditemukan juga  kata Al-adab yang berarti perilaku/ kesopanan, dengan kata peradaban bearti kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir dan bathin (Abdul Karim, 2009). Peradaban secara umum diartikan sebagai karsa manusia dalam menghendaki kesempurnaan hidup, kemuliaan, dan kebahagiaan sehingga menghasilkan berbagai aktivitas hidup manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Koentjaraningrat (1990) memberikan penjelasan istilah peradaban sebagai unsur-unsur dan bagian dari kebudayaan yang halus, indah dan maju.

Dalam tradisi Filsafat Tiongkok terdaapt perbedaan antara “menyelidiki/menyelami ilmu” dan “menyelidiki/menyelami Tao”. Maksud dari penyelidikan/penyelaman Ilmu adalah apa yang saya sebut “menambah pengetahuan yang positif” sedang maksud dari penyelidikan/penyelaman Tao adalah mempertinggi tingkat pikiran. Filsfat dianggap termasuk penyelidikan/penyelaman Tao. Di dalam Lao tzu tertulis “ Menyelidiki/menyelami Ilmu adalah untuk menambah hari dengan hari. Menyelidiki/menyelami Tao (artinya jalan atau kebenaran) adalah untuk mengurangi hari dengan hari.” Yang menjadi fungsi Filsfat Tiongkok bukanlah terletak pada bagaimana menambah pengetahuan yang positif, melainkan mempertinggi tingkat pikiran. Artinya, supaya pikiran manusia itu dapat menjulang tinggi untuk meraih hal-hal yang ada pada “sisi lain” dari dunia yang nampak ini, dan juga untuk meraih nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral (Yu Lan, Fung, 1966) .

Dalam tradisi Budha, manusia yang belum hening hati dan pikirannya, mereka akan hidupnya akat terperangkap dalam ilusi. “Dukkha” yang artinya bahwa kehidupan dunia ini tidak lain daripada penderitaan dan kesakitan, adalah menempati posisi utama dalam konsep ajaran Budha. Kata “dukkha” sebagai “Kesunyataan Mulia Pertama” selain berarti “derita” biasa juga mempunyai arti yang lebih dalam lagi, seperti “tidak sempurna”, “tidak kekal”, “kosong”, “tanpa inti”, dan sebagainya. Dalam Kitab Anggutara-Nikaya, salah satu kitab yang berisi koleksi asli dalam bahasa Pali dari khotbah-khotbah Sang Buddha, menyebutkan bahwa kebahagiaan (sukhani) itu terlepas dan terbebasnya seseorang dari ikatan-ikatan  kesenangan badaniah dan keadaan mental tertentu. Kebahagiaan yang murni atau keadaan “jhana” yang terbebas dari perasaan “sukha” dan “dukkha” sehingga merupakan keseimbangan dan kesadaran belaka juga termasuk dalam pengertian “dukkha”.  Dikatakan berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan keinginan dari nafsu. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.

Oleh karenanya dalam pemikiran Timur, qolbu atau hati memegang peranan penting. Dalam Islam, qolbu itu merupakan rumah daripada Tuhan. Dalam sebuah hadist Qutsi dikatakan bahwa “Qolbu orang mukmin itu adalah Baitullah”. Dalam hadist lain disebutkan: “Tidak memuat Dzat-Ku, bumi dan langit-Ku, kecuali hati hamba-Ku yang lunak lagi tenang (HR. Abu Dawud). Tidaklah hati seseorang itu dapat terang (tersinar), sementara gambar dunia ini terlukis dalam cermin hatinya. Hati tidak hanya merupakan pusat pancaran nur (cahaya) tempat bertemunya pancaran ruh dan nafsu, naum juga tempat kegelapan, ilusi, dan kelalaian bagi para pendosa. Tarik menarik antara ruh dan nafsu di medan pengasingan diri (kontemplasi) terjadi, ini untuk menetukan mana dari keduanya yang akan memerintah hati.

Perbedaan mendasar antara Filsafat Barat dengan Timur terletak pada metode atau jalan untuk sampai kepada kenyataan kebenaran. Dalam tradisi filsafat Barat, metode yang digunakan adalah penalaran murni. Bermula dari pengamatan terhadap benda-benda fisik, dengan menelaah dan meneliti, kemudian merenung memahami hubungan sebab akibat, untuk selanjutnya menemukan hakekat kenyataan kebenaran. Sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles bahwa alam semesta diciptakan oleh sang pencipta, sebagai penyebab pertama (causa prima) yang dilengkapi oleh seperangkat sistem keteraturan dan ketertiban (order). Alam semesta merupakan adalah suatu dunia ideal, keseluruhan organis yang saling berhubungan, suatu sistem idea-idea (forms) yang abadi dan tetap. Ketertiban alam telah ditetapkan sebelumnya (pre-established) yang kesemua realitas terpusat dan ditentukan, diprogram, dan ditata oleh serba keserasian (Scott Gordon, 1991). Tradisi rasional dan empiris kemudian menjadi basis filsafat Barat diperiode-periode kemudian.

Dalam tradisi masyarakat Timur, dalam mencari dan menemukan kebenaran lebih banyak mengandalkan “amalan atau laku”. Melalui laku atau amala, akan menuntun menapaki tingkatan-tingkatan kenyatan hidup, baik yang bersifat fisikal maupun spiritual. Beraneka ragamnya amal perbuatan itu adalah karena tingkatan-tingkatan karunia spiritual (waridatul-ahwal) yang diberikan kepada hamba-Nya berbeda. Karunia spiritual (waridat) mempengaruhi hall (state) jiwa dalam keleluasaan, kesempitan dan kedekatannya dengan Tuhan: namun ini semua bersifat batiniah. Karunia spiritual itu sendiri terlihat dan termanifestasikan dalam tindakan lahiriah yang meliputi pernyataan-pernytaan, dan berbagai hall (keadaan) penting lainnya). Amal perbuatan merupakan bentuk kerangka yang tidak hidup (shuwr qa’imah), namun nila keikhlasan di dalamnya (sirr al-ikhlash) memberikan ruh hidup padanya.

Penutup

Secara umum filsafat tdibagi menjadi dua garis besar yaitu filsafat Barat (occidental) dan Timur (oriental). Filsafat barat dan filsafat Timur tentu sangat berbeda karakteristiknya karena berkembang di daerah yang berbeda dengan kebudayaan serta peradaban yang berbeda pula. Banyaknya ilmuwan dari Barat yang selalu menciptakan inovasi baru untuk kemajuan dunia membuat filsafat Timur kurang mendapat perhatian. Filsafat Timur memang terkenal dengan sifatnya yang religius, mistis-magis sehingga kurang bis diterima secara rasional. Filsafat Timur berkembang di daerah Persia, China, India, Jepang, dan tentunya Nusantara. Di wilayah Timur juga terkenal sebagai wilayah yang mempunyai peradaban besar didunia dan sumber agama serta pandangan tentang manusia dan dunia. Banyak orang yang mencari ketenangan di daerah Timur karena dianggap memiliki suatu keadaan yang mendamaikan dan mententramkan jiwa. Cara pandang filsafat Timur lebih pada realita yang terjadi di sekitarnya, lebih memikirkan tentang dunia dan sesamanya.

Secara geografis wilayah Barat dan Timur memiliki banyak perbedaan, hal ini juga tetntu mempengaruhi cara berfikir mereka. Perbedaan paham antara Barat dan Timur yaitu jika di dunia belahan Timur mempunyai banyak negara dan banyak penduduk dengan jumlah yang besar serta angka kelahiran yang sangat tinggi. Mereka juga masih tergolong sebagai golongan menengah kebawah, sedangkan di dunia bagian Barat sudah mengembangkan kemajuan teknologi sejak lama. Masyarakat Barat juga tergolong aktif sedangkan di Timur tergolong pasif. Hal ini sesuai dengan keyakinan dan ajaran pokok mereka seperti Konfusianisme, Taoisme, Budhisme, dan lain-lain.

Didunia Timur lebih menekankan pada aspek intuisi dan juga pada batiniah, spiritual, dan mistis. Berdasarkan hal inilah maka orang Timur mempercayai bahwa dengan memiliki jiwa yang baik maka mereka akan mencapai kebijaksanaan dan kebaikan hidup. Jika di bagian Barat, mereka lebih condong pada keadaan masyarakat sekitar serta pada ilmu pengetahuan. Didunia Barat yang mereka lihat adalah objek dan kerja lapangan, jadi manusia harus menguasai alam untuk kepentingannya. Jika didaerah Timur, manusia merupakan bagian dari alam, sedangkan orang Barat berpedoman “to do is more important than to be” (berbuat lebih penting daripada sekedar ada). Jika orang Timur lebih kepada “to be is more important than to do” (kehadiran lebih penting daripada seseorang perbuat), jadi orang timur kurang suka dengan pertentangan dan konflik.

Penulis : Iswanto

—oo–000–oo—

DAFTAR  PUSTAKA

Anshari, Endang Saifuddin, 1981, Ilmu Filsaft dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu

Bahtiar, Amsal, 2004,  Filsafat  llmu, Jakarta: T. Raja  Grafindo Persada

Dasgupta, Surendranath, 1922, A History of Indian Philosophy, Vol. 1, First Edition, Cambridge: University Press

Gazalba, Sidi, 1973, Sistematika Filsafat; Pengantar Kepada Dunia Filsafat, Teori Pengetahuan, Metafisika, Teori Nilai, Buku III, Jakarta: Bulan Bintang

Gordon, Scott, 1991, The History and Philosophy of Social Science, New York and London: Routledge

Karim, M. Abdul , 2009, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher

King, Richard. 1999. Orientalism and Religion: Postcolonial theory, India and ‘the mystic East’. London: Routledge.

Lasiyo, Maret 1997, Pemikiran Filsafat Timur dan Barat: Studi Komparatif, Jurnal Filsafat, Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada.

Seri Kitab Tripitaka, 2015, Aṅguttara Nikāya: Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, Jakarta: Dhamma Citta Press.

Suriasumantri, Jujun S,1993, Filsafat  Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Yu Lan, Fung, 1966, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Macmillan Publishing Co. Inc.

Titus, Harold H.,   Smith, Marilyn S., Nolan, Richard T, 1984, Persoalan – Persoalan Filsafat,  Jakarta: Bulan Bintang