DaerahHeadlinesSosial Budaya

Istana Bahren, Riwayatmu Kini (Jejak Kejayaan Kesultanan Kotapinang Yang Kini Tinggal Puing)

60 Views

Medanesia.com – Istana Bahren yang berada di Kecamatan Kotapinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan pernah berdiri megah di masa kepimpinan Sultan Mustafa Alamsyah. Di resmikan pada tahun 1934 dan berdiri megah yang merupakan bukti sejarah dan simbol peradaban melayu yang maju saat itu. Namun hancur pada saat terjadinya revolusi sosial tahun 1964 dan sampai sekarang puing-puingnya masih terlihat sampai saat kini.

Banyak kalangan sudah mencoba mengangkat persoalan ini mulai dari pemberitaan di berbagai media, diskusi dan dialog publik, namun pemerintah yang notabenenya sebagai pihak yang lebih berperan dalam merevitalisasi keberadaan istana Bahren tidak belum bereaksi. padahal Istana Bahren adalah simbol kejayaan melayu yang pernah ada di Labuhanbatu selatan tepatnya di Kotapinang.

Kultur melayu yang dulunya sangat melekat di dalam aktivitas masyarakat, kini sudah tergantikan dengan adat istiadat yang lain. sehingga melayu yang seyogyanya mendominasi adat istiadat sudah tidak terlihat lagi. Indikasi pergeseran adat istiadat saat ini dapat dilihat dari adat istiadat perkawinan, warna perkantoran yang tidak menonjolkan kuning dan hijau serta dalam setiap pesta adat sudah jarang kita mendengar zikir, tapi telah diganti dengan endeng-endeng.

ISTANA BAHREN RIWAYATMU KINI

Menurut data sejarah yang penulis peroleh dari berbagai sumber, bahwa Kesultanan Kotapinang ini pertama kali didirikan oleh Sultan Batara Sinombah yang disebut juga dengan Sultan Batara Guru Gorga Pinayungan. Sultan Batara Sinombah merupakan keturunan dari Sultan Minang Kabau Negeri Pagaruyung yang bernama Sultan Alamsyah Syaifuddin. bersama adik tirinya Putri Lenggeni bermukin di Hutang Mumuk yang saat ini bernama Pinang Awan.

Awalnya di hutang mumuk di diami oleh dua suku yaitu Tamba dan Dasopang, namun sering terjadi pertikaan di antara keduanya. hingga pada suatu waktu mereka membuat suatu sayembara untuk menentukan pemimpin di daerah itu. Secara kebetulan Batara Sinomba sedang melintas dan merasa tertarik ikut dalam kompetisi yang di adakan oleh kedua suku tersebut. Dengan kesaktiannya, akhirnya Batara Sinomba menang dan di nobatkan sebagai Sultan. Nah…inilah cikal bakal kesultanan yang ada di kotapinang.

Namun, masa kejayaan Kesultanan Kotapinang terjadi saat dipimpin Sultan Tengku Ismail bergelar yang Dipertuan Sakti. Bahkan, wilayah kekuasaanya sampai ke perbatasan Selat Malaka. Masa keemasan itu cukup lama bertahan, yakni pada tahun 1873 sampai 1893.

Tengku Ismail memiliki tiga putra dan dua putri. Putra pertama bernama Tengku Musthafa bergelar Yang Dipertuan Makmur Perkasa Alamsyah, putra kedua bernama Tengku Makmoen Alrasyid yang bergelar Tengku Pangeran, putra ketiga Tengku Alangsyarif, sedangkan kedua putrinya Tengku Zubaedah dan yang terakhir Tengku Cantik.

Saat Tengku Ismail wafat, Tengku Musthafa masih berusia 12 tahun. Dia langsung dinobatkan oleh tokoh-tokoh Melayu untuk memangku tampuk kepemimpinan Kesultanan Kotapinang yang ke-11. Meski dalam usia mudanya, Tengku Musthafa mampu memimpin Kesultanan Kotapinang serta mempertahankan teritorialnya.

kemudian di masa Sultan Mustafa ini lah berdiri Istana Bahren yang diresmikan pada tahun 1934. setelah jepang pergi meninggalkan Indonesia tahun 1945, terjadi pergolakan di masyarakat yang anti terhadap kaum bangsawan pada tahun 1946, membuat Istana Bahren yang begitu megah hancur.

Kini kondisi istana Bahren hanya bangunan tua yang tinggal puing-pungnya saja, di kelilingi ilalang yang membuat suasana istana menjadi seram dan cukup memprihatinkan keberadaanya. seharusnya pemerintah dapat lebih bijaksana menyikapi asset sejarah yang bisa dijadikan ikon budaya yang ada di Labusel, namun hal itu tidak terlihat, bahkan pemerintah seakan menutup mata.

Padahal, Istana Kotapinang ini merupakan heritage yang mempunyai nilai sejarah yang cukup tinggi dan dapat dijadikan ikon yang paling bergengsi dan mempunyai daya saing yang tinggi dari daerah lain di Sumatera Utara, kata Ketua PB Ikatan Keluarga Labuhanbatu Selatan (IKLAS) Drs Rivai Nasution MM beberapa waktu lalu melalui telepon selulernya.

Sementara menurut H. Dadang Darmawan Pasaribu, M.Si, seorang akademisi, pengamat politik dan aktivis sosial sangat menyayangkan sikap pemerintah yang tidak peduli terhadap kondisi istana Bahren. Sebab, Istana ini adalah bukti sejarah bahwa di Kotapinang kala itu peradaban melayu telah berkembang begitu pesat bahkan sampai ke perbatasan Selat Malaka. la juga menyesalkan bahwa tidak adanya program yang riil dari pemerintah mengenai revitalisasi pembangunan Istana Bahren tersebut. Pemerintah harus bisa melestarikan aset budaya ini kata Dadang.
Padahal kalau di revitalisasi Istana Bahren akan menjadi simbol atas kejayaan masa lalu sekaligus sebagai asset budaya yang bisa dijadikan sebagai Destinasi wisata. Banyak hal yang dapat dilakukan kalau Istana ini bisa di bangun kembali, salah satunya menjadi Ikon Labusel, bahwa di Labusel ada sebuah istana yang berdiri megah. Namun sampai kini belum ada gerakan pemerintah untuk merevitalisasi istana tersebut.

Yah….kini hanya tinggal menunggu keajaiban saja agar kau (istana Bahren) dapat di dipercantik sebagaimana dahulunya kau pernah mengharumkan Kotapinang. Agar generasi berikutnya merasa bangga memilikimu dan bisa menceritakannya kepada dunia bahwa disini kau pernah menoreh tintas emas kejayaanmu.

Penulis : Ades Iskandar Nasution