EkonomiPolitikRagam

Membangun Inovasi Desa Menuju Desa Mandiri Melalui Dana Desa

19 Views

Medanesia.com – Hari ini melalui kebijakan pemerintah tentang Desa (UU 6/2014), kita menginginkan agar kelak Desa di Indonesia tumbuh kuat, maju, mandiri dan demokratis, untuk mewujudkan kesejahteraan dan kualitas hidup yang mulia bagi masyarakat Desa. Melalui 9 program nawacita Presiden Jokowi, Desa telah diniatkan untuk ditempatkan pada halaman depan dalam pembangunan bangsa ke depan, tidak lagi di halamn belakang seperti selama ini. Karena itu, mindset pembangunan kita ubah tidak lagi dari pusat melainkan dari pinggiran (Desa).

Namun demikian, niat dan keinginan yang baik tentang Desa, tentu saja tidak mudah untuk terwujud. Semua harapan manusia, pasti akan di uji di dalam prosesnya. Ibarat membangun keluarga, meski kita sudah memperoleh jodoh yang kita inginkan, dan terikat pada perjanjian, dan punya impian bahagia bersama, namun semua itu mesti di uji dalam perjalanan biduk rumah tangga. Segala tantangan, halangan, rintangan dan ancaman akan datang untuk menguji cita dan harapan yang sudah kita tetapkan. Ada yang sukses mengarungi ombak badai yang kuat dan beroleh kebahagiaan, namun ada banyak juga yang tenggelam terkena terjangan ombak dan badai sehingga gagal mewujudkan cita luhur.

Bahkan dalam kenyataannya, pikiran manusia yang dirasa-rasa baik, belum tentu juga saat diimplementasikan akan melahirkan hal yang baik. Sebagai contoh kita memberikan uang kepada Desa hingga milyaran rupiah, agar setiap Desa bisa melakukan pembangunan di desanya masing-masing. Namun kenyataannya, uang itu banyak digunakan untuk membangun rumah kepala desa masing-masing, membangun rumah untuk istri kedua kepala desa, dan sejumlah peruntukan lain yang sama sekali tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Desa.

Sebagai contoh, kita menginginkan agar Desa kita kuat, maju, mandiri dan demokratis. Kenyataannya, demokrasi di Desa-desa kita hari ini, hanyalah menjadikan Desa sebagai ajang baku hantam dari berbagai kelompok yang ada di Desa. Akibatnya, pasca pemilihan kepala desa, yang terjadi justru disharmoni dan meningkatnya rasa dendam. Akibat lanjutannya, pembangunan desa mandeg karena banyak gangguan dari masyarakat sendiri ataupun banyak masyarakat yang tidak berpartisipasi dalam pembangunan.

Dari berbagai perjumpaan dengan banyak Kepala Desa, penulis bisa mengambil kesimpulan bahwa soal yang ada di Desa-desa kita sungguh banyak sekali, mulai soal sumber daya manusia, soal manajemen, soal budaya, soal kemiskinan, soal infrastruktur, soal akhlak/moral, soal sosial-kemasyarakatan, soal kelembagaan sosial, politik, soal hukum dan sampai soal lingkungan dan sumber daya alam desa. Pendeknya semua soal di Desa saat ini sungguh banyak. Dibutuhkan kepemimpinan Kepala Desa yang kuat dan bijak serta sabar dalam menyelesaikan seabrek soal di Desa saat ini, disamping juga butuh dukungan sumber daya manusia, dan dukungan dari masyarakat itu sendiri.

Satu poin yang seyogyanya menjadi sangat krusial bagi Kepala Desa saat ini adalah kreatifitas dalam menyelesaikan soal yang ada di Desa. Kita sangat membutuhkan Kepala Desa yang kreatif sekaligus inovatif yang bisa membuat kekayaan jalan keluar dari masalah yang ada. Kreatifitas itu juga mesti di dukung oleh keberanian untuk bertindak sekaligus kesabaran untuk merawat tanaman kreatifitas itu hingga berbuah yang dapat dinikmati oleh masyarakat Desa. Tidak berlebihan jika sejak tahun 2017 kemarin pemerintah mengalakkan program inovasi desa (PID) bagi seluruh Desa di Indonesia. Kepala Desa diharapkan menjadi pemimpin perubahan bagi masyarakat Desa untuk keluar dari masalah yang ada di Desa.

Kepala Desa dan aparatur Desa serta masyarakat Desa yang kreatif-inovatif diharapkan akan menyelesaikan masalah kemiskinan, keterbatasan infrstruktur, penguatan sumber daya manusia, dan peningkatan nilai budaya yang luhur. Selama dua tahun terakhir ini (2017-2018) lebih dari 44.000 produk inovatif yang sudah berhasil disumbangkan oleh ratusan desa di Indonesia. Lebih dari itu, banyak desa merasa punya kesempatan untuk keluar dari soal yang ada dan percaya bahwa kelak mereka bisa mandiri lepas dari ketergantungan dengan pihak luar.

Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh warga Desa Silau Rakyat, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, ketika mereka menemukan formula gula merah berbahan dasar air pohon sawit. Lihat juga bagaimana warga Pematang Serai (Kec. Tanjung Pura, Kab. Langkat, Sumatra Utara), sukses membuat drainase serbaguna untuk mengatasi banjir dan memelihara ikan (ekonomi dan gizi terpenuhi, banjir dan becek teratasi). Tidak ketingalan, bagaimana upaya warga Desa Tiyuh Penumangan Baru (Kec. Tulang Bawang Tengah, Kab. T. Bawang Barat, Lampung) berhasil melakukan budidaya nangka mini yang menambah penghasilan, dalam mengatasi harga karet yang jatuh.

Pendeknya, di Desa banyak masalah, ada masalah banjir, masalah jalan, masalah pendidikan yang rendah, masalah pasar Desa yang tidak ada, kemiskinan yang abadi, infrastruktur yang terbatas, namun semua itu tetap ada jalan keluarnya, tetap ada solusinya. Dan penting diingat bahwa semua solusi hanya akan muncul pada orang-orang yang inovatif, sabar dan tak mengenal putus asa untuk terus berbuat demi membangun masyarakat desanya. Satu yang penting untuk kta ingat, sebagai hamba Tuhan Allah Yang Maha Esa adalah bahwa Tuhan pasti akan memberikan kuasanya bagi mereka yang sabar dan tak mengenal putus asa. Amin. Semoga Kepala Desa dan masyarakat desa dapat bekerja dengan ikhlas dan sabar serta tak mengenal putus asa untuk membangun masyarakat Desa. Dan semoga Kepala Desa tidak terkena tindak pidana di penjara karena menyelewengkan dana desa. Amin.

Penulis : H. Dadang Darmawan Pasaribu, M.Si