Cerpen

Cerpen : “Tahanan Nomor 159”

42 Views

Medanesia.com – Ini adalah hari terakhirku bersamanya. Aku akan bebas esok hari tepat pukul 8 pagi. Ah, senangnya. Aku akan kembali menghirup semerbak udara sejuk dunia luar yang sudah 11 bulan tak kujamah karena jeruji hitam ini menghalangiku.

Salam kenal. Aku tahanan nomor 151 yang ditempatkan di rutan Pondok Indah Jakarta. Namaku Miswan, usia 30 tahun. Apa yang membuatku bisa terperangkap disini?
Beginilah ceritanya. Sebelumnya aku hanyalah agen properti biasa. Tugasku menawari properti untuk diperjual-belikan atau mempromosikan properti orang lain agar cepat terbeli. Tapi atasanku, si licik itu, membuatku harus menerima getah hasil kebusukannya. Atasanku menipu sejumlah konsumen yang sudah menaruh kepercayaan pada perusahaan properti kami. Ia meraup uang konsumen yang dititipkan pada kami sampai properti mereka laku atau kami berhasil mencarikan mereka properti yang mereka inginkan, dana itu diberi di awal sebagai uang muka atau panjar. Dilaporkan, bukan hanya atasanku saja yang memakan uang itu, terhitung ada 3 sampai 4 orang yang bersekongkol bersama dan sampailah laporan ke-4 orang (yang awalnya kuanggap teman) itu menyeretku dalam daftar tersangka mereka.

Pada awalnya memang bencana besar. Aku tak berhenti menangis, tak pernah menyentuh makanan karena takut diracun, tak pernah buang air, mandi, bersosialisasi dan olahraga. Meski sudah dibuatkan jadwal kegiatan, aku tak serius mengikutinya. Benar-benar seperti jiwa dan badan yang terpisah. Semua kacau balau sampai aku bertemu dengannya, orang yang mengubah neraka ini menjadi sedikit berwarna. Dia adalah temanku, teman sesama penjahatku, tahanan 159.

Mulai saat ini, kisah ini bukan lagi membeberkan soal aku, memang dari awal kutulis ini bukan untuk menceritakan keseharianku di tahanan, melainkan untuk menceritakan orang gila itu. Si tahanan 159 yang berhasil mengubah pola pikirku tentang penjara seratus delapan puluh derajat.

Kumulai saja dari awal. Namanya Wawan. Ia menolak memberitahuku nama lengkapnya. Privasi katanya. Ia yang duluan menyapaku karena sel kami berdampingan. Dia datang satu bulan setelah kedatanganku kemari. Tingginya tak sampai 180 cm, rambut hitamnya setengah botak, posturnya bagus namun bahunya turun, ia mengenakan kacamata, giginya rapi dan putih, jemarinya berkedut-kedut seperti habis berenang berjam-jam, kebiasaannya adalah menggigit kuku dan menulis.

“Apa pekerjaanmu?” tanyanya padaku.
“Aku tidak bekerja lagi. Sekarang hanya istri yang bekerja.” Itu jawaban terkait urusan pribadiku yang kulontarkan pertama kali pada seorang tahanan.
“Wah, istrimu hebat. Kuharap dapat menikah dengan seseorang seperti dia kelak,” jawabnya dari balik dinding yang memisahakan selku dengan selnya.
Aku diam saja.
“Punya anak?” tanyanya lagi.
“Tidak punya. Tidak ingin,” jawabku sejujurnya.
“Loh, kenapa?” ia kembali bertanya.
“Merepotkan. Hidupku masih susah.”
“Benar kan? 60% orang Indonesia akan bilang begitu. Ekonomi, ekonomi, ekonomi. Bahkan generasi pun dibuat dengan uang. Sungguh ironis,” pungkasnya dengan nada pesimis.

Dengan berlanjutnya pertanyaan-pertanyaan dari Wawan, lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kami sering menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap, baik malam hari di sel masing-masing, saat sarapan bersama di kantin, saat kegiatan sosial di aula dan dimana saja. Ia orang yang banyak bicara, aku jadi ikut-ikutan. Tak hanya denganku, dia mengajak ngobrol hampir semua tahanan yang ia temui. Ia bertanya mulai dari penghasilan kami perbulan, menanyai prestasi kami saat sekolah dulu, seorang siswa seperti apa kami dahulu, apakah rumah kami ngontrak, apa merk ponsel kami sampai apa nama yang diberikan pada hewan peliharaan pertama kami.

Dia orang yang aneh. Dia sukanya bertanya, tapi jarang sekali menjawab pertanyaan yang kami berikan. Ia senang jika ada orang yang mau ‘curhat’ dengannya terkait masalah apapun dari yang pribadi sampai umum. Wawan juga selalu menagih koran pagi dari pak sipir. Awalnya kutebak ia adalah seorang politikus atau seseorang yang bekerja di bidang hukum namun ia menyangkalnya. Wawan tak terbuka soal kehidupannya diluar penjara.

Pada malam pergantian tahun, seluruh tahanan berkumpul di lapangan untuk menikmati pertunjukan kembang api kecil-kecilan. Api unggun besar menyala-nyala ditengah kami, semua tahanan bersuka ria. Saat itu untuk pertama kalinya, aku berhasil menguak sosok asli Wawan yang misterius itu.

“Tahun 2018..” Wawan menghela nafas berat. Kami duduk di ban-ban besar yang digeletakkan di tanah, hanya berdua. “Sungguh berat ya? Aku biasanya menghabiskan tahun baru dengan menonton pertandingan ulang badminton bersama teman lama atau makan malam di kaki lima bersama istri. Tapi sekarang?” aku melihat sekeliling lalu terkekeh sendiri.

“Enaknya.. Aku tak sempat menonton apapun di malam tahun baru. Yang kupikirkan cuma tenggat waktu, tenggat waktu, tenggat waktu.” “Tenggat waktu?” pikirku. Ini kesempatan besar untuk mengetahui seluk beluknya. “Tenggat waktu ya? Pasti berat.. Haha.. Istriku juga sering ngomel kalau sudah dekat tenggat waktu kerjaannya,” ucapku simpatik, “istriku tak bisa tidur kalau sudah kepikiran tenggat waktu, kadang ia tidak tidur sampai 3 hari.

Kalau kamu, Wan?” ujarku.
“Aku juga selalu begadang.. Tau-tau sudah pagi saja. Istrimu dan aku hampir mirip,” jawab Wawan sambil mengusap-usap rambutnya. “Hmm.. Begitu.. Istriku sih, ngerjain laporan keuangan bosnya yang menggunung tiap tahun.. Tabelnya sampai Z kalau sudah soal uang!”

“Istrimu sekretaris? Beda denganku. Aku mengurusi portal berita. Aku merekap seluruh berita dan jurnal dari hari pertama sampai hari ke-365 lalu dibundel dan dipresentasikan buat menunjukkan perkembangan. Sayangnya tiap tahun hanya begitu-begitu saja.”
“Dia seorang jurnalis!? Terlebih, jurnalis koran? Kenapa bisa sampai kemari?” gumamku dalam hati.

“Tiap tahun, setidaknya ada 100 berita negatif yang harus kutulis ulang, kuulas, kubaca dan kubundel. Mau pingsan rasanya melihat krisis yang terjadi di negara ini,” celoteh Wawan. “Haha, benar.. Tidak selesai-selesai ya,” komentarku. “Kadang melihatnya saja aku mau muntah, aku ingin keluar dari pekerjaanku tapi bosnya adalah ayahku sendiri. Dia melarangku buat mengundurkan diri karena aku yang berpotensi besar menggantikannya mengurus perusahaan. Tapi aku betul-betul lelah, Mis. Aku nggak sanggup melihat foto-foto kekerasan, penganiyaan, penindasan yang tiap hari masuk ke surelku.” Jelas kelihatan mata putus asa saat ia bercerita. Tampak sudah lama ia memendamnya.

Lama kami terdiam. Kobaran api unggun menyisakan abu dan cipratan kecil api yang melayang-layang.

“Boleh kutahu, kenapa kamu bisa sampai dijebloskan ke penjara? Nampaknya kamu bukan orang jahat, dan dari pekerjaanmu, tidak ada yang bisa membuatnya disalahkan.” Ia menatapku lurus, kupikir pada awalnya takkan mendapat jawaban. “Aku? Aku tak melakukan tindak kriminal apapun. Masuk kesini adalah pilihanku.”

“HAH??—Be, bercanda, kan?” Aku terlonjak. Baru kali ini aku bertemu orang yang sengaja masuk penjara. Wawan tertawa kecil sebelum berkata, “Tidak ada orang yang ingin hidup di tengah kejahatan. Kalau pun mereka adalah orang jahat, mereka tidak ingin bertetangga dengan sesama penjahat dan saling menjahati. Atas dasar pikiran itu aku kemari. Aku melarikan diri dari dunia sampah yang dipenuhi kejahatan. Ke tempat dimana tidak akan ada tindak kejatahan karena seisi orangnya memiliki satu pendirian yang sama, yaitu menjadi jahat.”

“Apa maksudmu?” ujarku bingung.
“Miswan kawanku, kenapa ada kejahatan di dunia? Tidak, tidak. Sebenarnya apa itu kejahatan?” Aku menggeleng kikuk dihadapkan pada pertanyaannya.

“Kejahatan lahir dari pola pikir manusia yang tidak selaras dengan pola pikir pada umumnya. Orang yang melakukan hal yang tidak lumrah terjadi di kalangan masyarakat, melakukan aksi yang tidak biasa terjadi dan tidak biasa dilihat oleh orang pada umumnya akan disebut kejahatan, karena tidak sesuai dengan aturan main yang berlaku. Jika pembunuhan adalah tindakan benar, maka seluruh pembunuh adalah penghuni surga. Tapi yang berlaku di dunia sekarang dan seterusnya adalah menyalahkannya. Itulah yang terjadi hari ini. Semua tindak-tanduk manusia diukur oleh orang baik, maka yang keluar garis dari aturan yang mereka buat akan disebut penjahat. Padahal kawanku, orang baik belum tentu benar dan kamu tahu, tidak semua orang disini benar-benar melakukan kejahatan. Mereka mungkin salah satu korban peraturan orang baik.”

“Jadi kamu menyalahkan orang baik?” aku bertanya.
“Oh jelas tidak.

Tidak semua maksudku. Aku hanya muak. Muak dengan bumi dan isinya yang sudah seperti itu sejak bertahun-tahun, tak ada perubahan. Semua orang merasa baik hanya karena berada di garis yang sama, karena itulah kejahatan terus terjadi, karena mereka tak sadar garis itu sudah melengkung sejak lama. Aturan yang berlaku, serta peran-peran yang mereka mainkan tiap harinya nyatanya tak semuanya menjadi buah menguntungkan bagi orang lain. Contohnya Farhan itu, dia menabrak seorang pejalan kaki yang melanggar lampu lalu lintas, si pelanggar bebas dan Farhan ditahan karena ia jalan pada saat lampu sudah hijau. Menurutmu siapa yang pantas di penjarakan? Lalu Ipin, ia dijatuhi hukuman 2 tahun penjara karena membeberkan aib bos perusahaan yang ternyata mantan koruptor. Miswan, apa menurutmu dunia tidak gila? Dan kasusmu lagi, Mis. Contoh besar ketidakadilan ini!” tutur Wawan berapi-api. Apa yang dikatakan Wawan masuk akal. Ketidakadilan itu kurasakan walau kadang aku juga menjadi bagian di dalamnya entah sebagai pelaku atau korbannya.

“Tapi mengapa harus melarikan diri ke penjara?
Banyak tempat yang—“

“Karena hanya di sini semua orangnya memiliki pola pikir yang sama,” potong Wawan.

Saat itu aku tahu kalau dia gila. Dia gila kedamaian tapi tidak menginginkan kedamaian untuk seorang diri. Dia menginginkan kedamaian yang melibatkan orang di sekitarnya bahagia. Bukan kedamaian satu pihak yang banyak orang idam-idamkan. Ia lebih memilih bergabung bersama penjahat yang bermoral dibandingkan bersama orang normal di kehidupan normal namun hanya mementingkan diri sendiri. Apa yang dikatakannya kepadaku malam itu membuat hatiku bergetar. Aku tidak menyesal sudah di penjara. Terlebih lagi dipertemukan dengan sosok idealis seperti Wawan, aku kelewat senang. Seperti menemukan harapan di tengah kegelapan gulita. Aku takkan melupakan semua pembicaraan kami, semua dialog dan monolognya yang selalu memotivasi juga prinsip hidupnya yang mencengangkan.

Malam ini adalah malam terakhirku berbincang dengannya.
Wawan masih harus mengisi 60 hari lagi disini bersama tahanan-tahanan lainnya. Ia sedih akan kehilanganku namun kami berjanji untuk bertemu saat ia bebas nanti. Mungkin besok aku akan bebas secara fisik tapi tidak secara mental, karena kedamaian yang kurasakan di penjara lebih nyata dibanding diluar sana. Tapi aku tak mau kembali lagi kesini. 11 bulan yang sudah kulewati di rutan Pondok Indah Jakarta adalah pengalaman berharga. Aku sangat menikmatinya.

Sebagai perpisahan aku menanyakan satu hal yang sangat membuatku penasaran.
“Jadi, Wan, apa yang kamu lakukan sampai bisa dijebloskan kemari? Kamu memintanya dengan tulus atau bagaimana?

Dengan enteng Wawan menjawab,
“Aku meludahi seorang polisi tepat di wajahnya.”

Oleh: Ghumai Namira

* Cerpen “Tahanan Nomor 159” ini adalah cerpen yang menjadi finalis 100 besar Lomba Cerpen Nasional (LCN) dalam “Even Hunter Indonesia” yang diselenggarakan oleh Even Hunter Indonesia pada Periode Januari 2019 yang lalu.

** Ghumai Namira Penulis Cerpen “Tahanan Nomor 159” tercatat sebagai siswa sekolah menengah atas kelas dua. Cerpen ini adalah cerpen pertamanya yang diperlombakan pada tingkat nasional. Selain menulis Cerpen Ghumai juga sudah merampungkan satu Novel terbaru sekaligus perdananya berjudul “Casey” yang belum dicetak bukukan. Sedari kecil, sudah suka membaca. Banyak novel dan komik berseri yang sudah dilahapnya. Tidak ketinggalan dia juga memiliki koleksi buku-buku komik berseri dan novel-novel dalam dan luar negeri. Meyukai novel bergenre detektif dengan berbagai soal dan kerumitan di dalamnya. Bakat menulisnya, mulai terasah sejak ia mengikuti berbagai sayembara, dari majalah-majalah anak-anak yang menjadi langganannya. Dari situ, bakat menulisnya terus terasah. Selain menulis, ia juga suka dengan puisi dan sesekali tampil membaca puisi dengan teman-temannya.