HeadlinesRagamSosial Budaya

Tradisi Pulang Kampung dan Energi Positif

44 Views

Medanesia.com – Pulang Kampung (mudik) pada saat lebaran adalah tradisi dalam masyarakat Indonesia, atau mungkin juga pada masyarakat (bangsa) lainnya. Suatu kebiasaan yang sudah menjadi budaya yang berurat dan berakar mendalam mempengaruhi kesadaran sosial bangsa Indonesia. Bagi masyarakat (suku-bangsa) di Indonesia, sejauh apapun merantau kenegeri orang, namun ada saatnya untuk kembali ke kampung. Kerinduan akan pulang ke kampung halaman sendiri, itulah yang selalu tiba-tiba begitu memuncak dan seolah menjadi ritual yang tak bisa ditinggalkan.

Mereka yang pulang kampung seolah kembali kepada rahim Ibu yang sudah melahirkannya, sebagai pengakuan yang hakiki akan kedudukan orang tua, ketaatan, sumber kebahagiaan, dan percaya bahwa restu orang tua adalah yang utama dalam kehidupan. Mereka yang pulang kampung biasanya menuju satu niat dan tujuan yang sama yaitu kembali kepada pangkuan orang tua, bersimpuh, menyerahkan diri sepenuhnya, memohon maaf yang setulusnya, mengeluarkan air mata bahagia, dan sekuat tenaga membahagiakan orang tua dan keluarga. Semua itu tentu saja hanya bisa terjadi pada saat lebaran.

Karena itu, kampung halaman, tidak lagi dimaknai sebagai tempat tinggal dan tempat lahir, namun kampung halaman adalah tempat kembali yang terbaik dan tempat memulai membangun energi baru untuk kembali merantau dan untuk suatu hari nati kembali. Semua pemudik percaya bahwa kampung halaman mereka adalah laksana magnet spritualitas yang tak ada habisnya, yang mesti mereka datangi, ziarahi, bagaimanapun sulit dan tantangan yang ada dalam perjalanan menuju kampung halaman tersebut. Kalau pulang kampung, para pemudik biasanya membawa uang untuk keluarga sehingga banyak pengamat menagnggap bahwa mudik syarat akan peningkatan ekonomi di desa, namun bagi pemudik semua itu sama sekali tak mereka pikirkan.

Karena itu, para sosiolog menyimpulkan, tradisi mudik (pulang kampung) pada saat lebaran tidak sesederhana penampakan secara fisik belaka, mulai dari adanya pergerakan jutaan kendaraan baik arus mudik maupun arus balik, ritual kemacetan berkilometer, pembangunan jalur mudik (pantura) oleh pemerintah setiap tahun, dibawanya trilyunan rupiah uang ke kampung hingga perjumpaan keluarga berkeluarga di kampung. Namun tradisi mudik sesungguhnya adalah suatu tradisi yang telah diisi oleh nilai-nilai spritual sekaligus nilai alamiah yang hidup ditengah umat manusia utamanya di Nusantara. Sehingga mudik merupakan suatu agregat dari semua hal fisik yang bisa dibayangkan siapapun hingga hal-hal yang transenden sekaligus imanen yang tak kelihatan, dimana sumber utamanya adalah kasih sayang (rahman-rahim).

Mudiknya Suatu Bangsa

Jika pulang kampung dapat dengan mudah kita saksikan, lamtas bagaimanakah dengan pulang kampungnya suatu bangsa? Apakah suatu bangsa punya kampung halaman, sebagaimana kita punya kampung halaman secara fisik?

Kehidupan suatu bangsa laksana kehidupan seorang manusia, dimana siklus kehidupannya mulai kelahiran, remaja, dewasa sampai tua dan mati, seolah sama seperti siklus kehidupan manusia. Semua bangsa di dunia ini dilahirkan oleh situasi dan kondisi sosial yang mengandungnya, kemudian berproses, hingga menjadi tua-renta dan kemudian mati (berakhir/bubar). Bisa dipastikan bahwa semua bangsa-bangsa di dunia ini akan mati dan digantikan bangsa-bangsa baru di atasnya. Bangsa di Asyiria, Mesopotamia, Bangsa Akadia, Bangsa Romawi, mereka semua sudah menemui ajalnya, dimana kejayaannya kini hanyalah tinggalah kenangan belaka.

Jika sebagai bangsa Indonesia kita pernah dilahirkan (1945) kemudian kita sedang berproses dalam hidup dan kehidupan pergaulan global saat ini, dimanakah kampung halaman kita sesungguhya?

Karena suatu bangsa itu adalah sesuatu yang imajiner, hanya ada dalam bayangan kita (imagine society) maka, rahim tempat bangsa itu dikandung dan ditiupkan “ruh” adalah perlambang dimana para pendiri bangsa berkumpul, bersatu kemudian mengikat perjanjian (konsensus) bersama yang luhur. Ruh suatu bangsa tepatnya adalah ideologi yang dianut bangsa iti sendiri. Tanpa ruh suatu bangsa akan mati (a nation without faith can not stand).

Ideologi itulah yang telah “ditiupkan” terlebih dahulu dalam kandungan sebelum suatu bangsa itu benar-benar lahir (merdeka). Bagi bangsa Indonesia “ruh” nya adalah Pancasila, yaitu suatu nilai-nilai luhur yang sudah ditiupkan (ditetapkan) oleh seluruh pendiri bangsa melalui konsensus bersama sebagai suatu ikatan (perjanjian setia) untuk menjalani kehidupan nantinya. Pancasila itulah yang diletakkan sebagai pondasi gerak bagi perilaku bangsa Indonesia ketika bangsa Indonesia lahir dan tumbuh.

Namun, dalam perjalanannya, bangsa Indonesia menghadapi banyak cabaran. Dalam perjalanannya, bangsa Indonesia banyak menerima ujian, goda-rayuan, serta ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Sedetik kita lupa tidak konsisten pada janji suci kita yang sudah diikrarkannya sejak dalam “kandungan” dahulu, maka sedetik itu pula kita keluar dari jati diri asali kita. Pada saat persentuhan inilah bangsa Indonesia banyak tergoda dan kemudian ternoda oleh impian-impian (ideologi-ideologi) lain yang kelihatan lebih baik dan lebih suci. Dengan tergoda dan ternoda oleh bujuk-rayuan “yang lain” itulah yang membuat peta jalan bangsa Indonesia dalam perjalanannya menjadi kabur, hilang, dan tak tentu arah. Bangsa Indonesia kehilangan jati diri sekaligus kehilangan arah.

Karena itu, tidak ada cara lain untuk kembali kepada jati diri yang sejatinya itu, kecuali bangsa Indonesia kembali ke “kampung halamannya”. Kampung halaman sebagai tempat semula itulah yang nyata sesungguhnya. Sebagai suatu bangsa, kita butuh kembali ke asal kita dilahirkan, “pulang-kampung”, merenungi diri, kembali mengisi energi positif setelah begitu banyak berjalan di kolong jagad global yang penuh tantangan ini. Saatnya, kita butuh pulang kampung, yaitu suatu tempat dimana kita dikandung dahulu, tempat kembali ke “rahim ibu pertiwi”.

Dengan kembali ke pangkal, dengan kembali ke rahim, kembali pulang kampung, kita berharap bangsa Indonesia akan kembali sadar, bahwa ada petatah-petitih dari para leluhur pendiri bangsa yang sudah mengikat konsensus kala itu melalui perjanjian luhur untuk meletakkan keberadaan Tuhan, Manusia, Persaudaraan, Bijaksana dan Adil sebagai pondasi dalam berfikir dan bergerak akan kita tidak salah jalan dan tersesat. Dengan pulang kampung, kita akan diingatkan kembali akan pesan-pesan luhur para “orang tua” pendiri bangsa, sehingga energi positif kita kembali hidup untuk seterusnya bisa mengarungi kembali hidup dan kehidupan di kampung global saat ini. (DDP)