HeadlinesMedanRagam

Sisipus : Senjakala Didalam Kampus

54 Views

Medanesia.com – Pembaca bertanya-tanya, siapakah dan apakah sesungguhnya “Sisipus” itu? Berikut ceritanya. Sisipus adalah nama samaran. Seorang dosen di kampus FISIP USU. Pengajar di satu Departemen, dengan reputasi yang lumayan, punya banyak pengalaman bekerja di lembaga asing, senang riset, dan sejumlah prestasi lain. Namun, pada tanggal 14 Februari 2019 yang lalu, nama baiknya mulai tercoreng, dan seolah topengnya mulai terbuka. Sipembuka topeng tak lain adalah suatu situs berita/artikel/infografik nasional yang cukup populer di Indonesia yaitu Tirto, tepatnya “tirto.id”.

Semuanya berawal dari survei yang dibuat tirto.id dengan judul “nama baik kampus”. Seorang penyintas (korban) yang bernama Diana (juga nama samaran), seorang mahasiswi aktif di Kampus Fisip USU, telah mengirimkan testimoni kepada redaksi tirto tanggal 14 Februari 2019 tentang kejadian pelecehan seksual yang menimpanya bulan Februari tahun 2018 saat libur Ujian Akhir Semester (UAS).

Sejak itu antara Diana dan pengasuh survei terlibat korespondensi, hingga akhirnya di laman tirto.id, muncullah satu tulisan yang ditulis oleh Aulia Adam dari tirto, dengan judul “Pelecehan Seksual di FISIP USU Disimpan Jadi Rahasia Jurusan”. Sesuai judulnya, ibarat bangke yang coba disimpan di jurusan, akhirnya kasus pelecehan seksual antara dosen dan muridnya tercium juga. Baunya keras menyengat, menyengat semua sivitas akademika, menyengat semua publik Indonesia.

Dari tulisan itulah, info pelecehan seksual di Kampus Fisip USU menyebar cepat ke berbagai pihak melalui banyak media utamanya media sosial. Dari info Tirto, muncullah banyak tanggapan keprihatinan, mulai dari keprihatinan terhadap korban, keprihatinan terhadap jurusan yang tega merahasiakan kasus pelecehan seksual, keprihatinan terhadap fakultas yang juga tak bisa bertindak, lebih-lebih keprihatinan kepada Sisipus.

Terlebih bagi korban, kondisi psikis Diana semakin hancur, ia masih selalu melihat Sisipus sanggup berkeliaran di kampus tanpa rasa bersalah. Bagi Diana, perjumpaan kembali di kampus itulah yang betul-betul menjadi mimpi buruk. Diana shock. Tuntutannya agar sipelaku diskors tak lagi mengajar kandas. Diana merasa tak mendapatkan keadilan, kasusnya dianggap enteng, diselesaikan dengan pemanggilan yang berujung surat peringatan bertuliskan tangan, tanpa kop surat dan tanpa tanda tangan Dekan.

Surat itu, jelas mirip surat basa-basi, akal-akalan, kolaborasi jahat, dan sama sekali tak ada keberpihakan dan perlindungan padanya. Diana meratapi kasusnya sendiri, ia diam membisu tak tau mau berbuat apa lagi. Bagi Diana, pintu keadilan di FISIP USU seolah telah macet, tertutup. Kasusnya justru dianggap menjadi batu sandung bagi Kampus dan Jurusan yang sedang sibuk mengejar prestasi.

Butuh waktu setahun, akhirnya Diana bertemu “tirto.id”. Dari tirtolah kasusnya naik kembali. Bak roda kehidupan, kasus-nya kembali bergulir, kasus pelecahan seksual yang sengaja disimpan di jurusan Sosiologi FISIP USU, kini tak lagi bisa disimpan. Dengan bantuan tirto, semua orang kini menjadi saksi bagaimana kasus pelecahan seksual ini coba disembunyikan, coba diselesaikan secara tidak adil, dan cenderung “melecehkan” korban. Diana bahkan telah menjadi korban dua kali.

Kampus semakin tersentak, sebab kasus ini tidak hanya menimpa Diana. Seorang mahasiswi lainnya di Fisip USU juga telah menjadi korban Sisipus. Nalar liar kini menjalar kemana-mana. Ribuan pertanyaan menyembul keluar dari kotak pandora. Adakah mahasiswi korban lainnya? Adakah dosen lain sebagai pelakunya? Bagaimanakah sesungguhnya kehidupan kampus yang selalu berlindung dibalik jubah sucinya? Butuh riset mendalam dan butuh keberanian mengirimkan hasil risetnya ke scopus.

Kampus, ternyata tak seindah bangunannya, tak seindah pakaian dan mobil-mobil para dosennya, tak seindah banyaknya tulisan dosen yang termuat di scopus, tak seindah slogannya, tak seindah rangking kampusnya. Kenyataannya, kampus laksana taman “kemunafikan” yang sejati, ibarat musang berbulu domba, ibarat predator berjubah toga. Dibalik teori-teori, narasi-narasi indah, riset-riset, jurnal-jurnal, kegiatan pengabdian yang disampaikan sebagai suatu prestasi, tersimpan cerita-cerita amoral, pelecehan, ketidak adilan, persaingan, konflik, sentimen identitas, hingga blok-blok politik. Banyak orang muak.

Dan semua itu terbukti. Kasus Diana, akhirnya menuai banyak reaksi dan demonstrasi. Dengan “menggantungkan celana dalam” mahasiswa mendatangi Dekan. Namun, lagi-lagi pejabat kampus masih juga basa-basi, terkesan tak tau arah untuk menyelesaikan kasus ini. Tak ada reaksi dan solidaritas yang memadai dari kalangan Dosen, yang tergerak hanya mahasiswa belaka. Semua pejabat Fakultas mengesankan upaya menghindar dan sembunyi, memancing kegeraman dan reaksi.

Namun sayang, Fakultas hanya bersembunyi dibalik ilalang, semua gerak-gerik mereka terpantau jelas di media, dicatat semua sivitas akademika. Semua gerak-gerik kampus kini dilaporkan terbuka. Diana dan temannya serta semua simpatisannya kini tinggal berharap pada Rektor. Mudah-mudahan dari universitaslah mereka dapat keadilan. Dari universitaslah terbit secercah harapan, menggeser senja yang sedang menggantung di Fakultas dan Jurusan. (DDP)