HeadlinesKelas FilsafatPolitik

Eropa Bergerak ke Kanan (Tumbuhnya Kekuatan Ultra Nasionalis)

38 Views

Medanesia.com – Gerakan populisme dunia (supremasi rakyat setempat) masih bergerak tumbuh, mengusung gagasan rasialis (cinta bangsa), intoleran (cinta tanah air), dengan mengembangkan ssikap: anti suku-bangsa pendatang (anti kulit berwarna), anti agama pendatang (Islam), anti teroris, pentingnya tembok pembatas, dan superioritas kulit putih.

Gelombang ini di Eropa awalnya dipicu kemiskinan yang melanda kulit putih, buruknya pelayanan publik, meningkatnya jumlah imigran, berkembangnya kulit berwarna dan agama Islam di Eropa. Semua itu menurut kaum kanan-ekstrem adalah buah ideologi kaum Liberal Eropa yang berpaham multikulturalisme, post-modernisme, dan relativisme yang melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro pada imigran, pro-globalisasi (ideologi, pasar, politik, sosial, budaya), pro pada perbedaan, dan pro penyatuan Eropa (EU).

Bagi kaum populis (pribumi), Liberalisasi dan Globalisasi justru berakibat buruk. Keburukannya adalah terjadinya percampuran warga dunia, tersingkirnya supremasi kulit putih, terdesaknya agama asli (kristen), mencemari keaslian Eropa, dan pada akhirnya mengancam eksistensi negara bangsa Eropa. Karena itu tidak ada cara lain untuk menolak Liberalisasi dan Globalisasi, kecuali dengan cara menolak kaum pendatang (anti-imigran), menolak agama asing (anti-Islam), mendahulukan kepentingan nasional (deglobalisasi), dan paling ekstrem keluar dari Uni Eropa (brexit).

Berbagai kelompok dan pemimpin populis (ekstrem kanan/nasionalis) Eropa kini mulai menampilkan tekanan serius kepada kelompok Liberalis. Di Italia ada Matteo Salvini (menteri dalam negeri), Viktor Orban (PM Hongaria), Marine Le Pen (Perancis/Pemimpin Rally Nasional), Partai AfD (Jerman), hal yang sama juga muncul di Ukraina, Polandia, Belgia, Belanda, Skandinavia, dan Inggris. Bersamaan juga tumbuh kembang kelompok-kelompok neo-fasis dan “nasional sosialis” di dunia.

Sebaliknya, bagi para pemimpin Liberal Eropa, UE hari ini adalah benteng untuk menghempang tumbuhnya rasialisme, bahkan fasisme di Eropa. Para pemimpin UE percaya bahwa gagasan globalisasi, internasionalisme, dan kerja sama dunia, adalah hal yang positif bagi Eropa dan Dunia dibandingkan gerakan politik nasionalisme sempit (ekstrem), yang akan mengembalikan Eropa kepada era tahun 1930-an yang rasis dan fasis.

Hari ini, kubu populis, nativis, ekstrem-kanan Eropa, didorong kampanye Matteo Salvini telah bersiap menyambut pemilihan parlemen Eropa 2019 sebagai suatu pertempuran yang mesti dimenangkan mereka. Kaum populis percaya ini saatnya mereka menghentikan gelombang imigrasi yang membanjiri Eropa, membatasi pergerakan teroris, membatasi gerakan Islam, dan kembali menegakkan supremasi nasional.

Namun, Angela Merkle (Kanselir Jerman) mengingatkan bahwa munculnya gagasan nasionalis, sosok-sosok pejuang kebangsaan, proyek pribumisasi Eropa, hanya akan mengembalikan Eropa ke Era Nazisme yang sukses mendompleng chauvinisme masyarakat Eropa. Namun demikian, para pemimpin Eropa juga mulai sadar bahwa, krisis ekonomi, krisis migran, dan krisis kepercayaan yang melanda Eropa kini, telah membawa Eropa pada gelombang ketidak pastian yang memunculkan ancaman serius pada akhir zaman ini. (DDP)