Kelas FilsafatSosial Budaya

Memaknai Harlah Pancasila ke 74 (Sejarah dan Kondisi Bangsa Hari Ini)

53 Views

Medanesia.com – Pada hari Senin, tanggal 1 Juni 1945, 74 tahun yang silam, sebelum Indonesia Merdeka, Bung Karno menyampaikan pidato di depan BPUPKI. Dalam pidato itu Bung Karno menyampaikan, bahwa sebelum merdeka kita penting memiliki pondasi nilai dasar yang kuat. Nilai Dasar itu mestilah merupakan intisari dari Jiwa, Kehendak dan Hasrat yang sedalam-dalamnya dari seluruh bangsa Indonesia.

Pada rapat BPUPKI itulah untuk pertama sekali Bung karno menyampaikan, bahwa Nilai Dasar yang menjadi pondasi Indonesia merdeka ada 5 yaitu Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Untuk pertama sekali itu pula, Bung Karno menyebut Nilai Dasar yang 5 itu Dia namakan sebagai Pancasila. Berdasarkan fakta itulah ditetapkan hari lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, dan pencetusnya adalah Bung Karno.

Rumusan Pancasila kemudian berkembang pada tanggal 22 Juni 1945 pada rapat nonformal BPUPKI yang dihadiri 38 anggotanya yang disebut Muhammad Yamin dengan Piagam Jakarta. Pada rapat itulah atas usul perwakilan umat Islam rumusan sila pertama dibuat dengan redaksi, “Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”. Seterusnya sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indoensia, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebjaksanaan Dalam Permusyawratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sampai Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 rumusan Pancasila masih sesuai dengan Piagam Jakarta.

Namun rumusan Pancasila versi Piagam Jakarta itupun kemudian berubah lagi, pada tanggal 18 Agustus 1945, pada sidang PPKI yang pertama, dimana pada saat itu sidang PPKI menyetujui penghapusan 7 kata pada sila pertama rumusan Piagam Jakarta sebagaimana usulan Muhammad Hatta, yang sebelumnya dilakukan dengan jalan lobi yang panjang kepada perwakilan umat Islam.

Polemik Pancasila kemudian terus berkembang ditengah-tengah masyarakat tidak hanya menyangkut isinya tapi juga kelahirannya. Rezim Orde Baru justru memperingati Kelahiran Pancasila tanggal 1 Oktober dengan alasan, pada tanggal 30 September 1945 itulah bangsa Indonesia sukses menghancurkan PKI yang telah merongrong Pancasila. Namun demikian rezim Orba tak mau pusing, mempersilahkan masyarakat memperingati Harlah Pancasila baik tanggal 1 Juni ataupun tanggal 18 Agustus.

Dengan demikian, terkait sejarah dan polemik kapan Harlah Pancasila ditengah masyarakat, jelas tak akan ada habisnya dibahas, Bahkan sama sekali sudah tak ada faedahnya, selain kehilangan energi. Karena itu perdebatan hari lahir, kita tinggalkan dibelakang, kita cukupkan sebagai catatan sejarah belaka, dimana kita semua sepakat bahwa untuk pertama sekali Pancasila disebut dan diperkenalkan dimukabumi ini pada tanggal 1 Juni 1945. Bhakan, yang paling penting saat ini bukan juga memperingatinya, melainkan melaksanakan nilai-nilai luhur yang ada di dalam setiap sila dalam Pancasila.

Mari kita lihat cara kita memperingati Harlah Pancasila. Tak perbedaan sedikitpun dengan cara yang kita lakukan puluhan tahun yang silam. Acara yang dibuat itu ke itu saja, mulai dari seminar, diskusi, buka puasa bersama, hingga bedah buku dan publikasi artikel tentang Pancasila. Sebagai pernak-perniknya, berbagai bentuk ucapan selamat ulang tahun-pun banyak disampaikan individu dan kelompok kepada “Pancasila”. Kalaupun ada tambahan yang baru, adalah muncul slogan-slogan seperti “Aku Pancasila” yang diucapkan oleh berbagai kalangan, tanpa arti dan makna yang mendalam.

Bisa disimpulkan, peringatan Harlah Pancasila hari ini menjadi pertanda bahwa semua pihak sesungguhnya telah kehilangan akal, cuma bisa menonjolkan acara-acara seremonial, artifisial, remedial dan ritual. Semuanya dikemas serba simbolis dan praktis, jauh dari kesan idiologis. Nyaris tak ada yang menyentuh esensinya (hakekatnya). Kita lebih suka acara yang enak dipandang mata fisik belaka, ketimbang dengan mata bathin. Kita merasa cukup hanya dengan memperingati hari lahirnya, tapi tidak mau mengaplikasikan keluhuran nilainya, “itulah sesungguhnya Kita!”.

Berbagai perhelatan peringatan Harlah selama puluhan tahun, nyaris tak ada mewarisi nilai-nilai luhurnya (melaksanakan perintah Tuhan, beradab, bersaudara, musyawarah-mufakat, dan adil kepada seluruh rakyat). Sebaliknya, kita justru mewarisi sikap-sikap ganjil, aneh dan asing yang bukan identitas kita (menuhankan kekuasaan, melakukan hal yang tak-beradab, konflik, persaingan dan tidak adil kepada sesama. Adalah wajar, jika peringatan dengan masalah berjalan beriringan, keduanya semakin meningkat.

Semua itu sebagai bukti yang dikatakan Bung Karno, dimana kita hanya mampu mewarisi “debunya”, bukan gelora “apinya” (hakekatnya), yang mestinya menyala-nyala dalam kesadaran dan sanubari kita. Sebagai bangsa kita berjalan tanpa “ruh”, tak ada penuntun, kita linglung, bingung, tak ada pegangan, kita hanya mengikuti nafsu angkara-murka.

Karena itu, ritual peringatan yang artifisial dan seremonial ini jelas tidak akan merubah apapun dari apa yang salah selama ini. Peringatan tahun ke tahun jelas tak ada artinya, namun jelas ada anggarannya. Peringatan hari lahir Pancasila jelas tidak mengurangi korban narkoba, mengurangi perzinahan, mengurangi laju kerusakan hutan, mengurangi niat orang untuk korupsi, kolusi dan nepotisme, dan mengurangi niat berbagai kelompok untuk menguras harta negara ini. Hanya dengan peringatan jelas tidak akan mengubah apapun dari bangsa kita, selain kerusakan yang semakin parah.

Semua itu pertanda kita telah terjebak, terkurung dalam kurungan kebodohan, ketunaan, dan kehilangan pegangan. Kehilangan pegangan juga pertanda, bahwa kita sudah memasuki zaman (era) baru, sekaligus akhir, dimana yang sejati sungguh sudah hilang, dimana kebenaran yang hakiki sudah pergi digantikan kebenaran yang palsu (post-truth), dan yang kita anggap nyata nyatanya hanyalah bayangan (hiper-realitas). Sampai akhirnya, peringatan hari lahir Pancasila yang kita lakukan secara seremonial inipun, telah kita maknai secara substansial. (DDP)