PolitikSosial Budaya

Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah, Renungan dan Introspeksi

50 Views

Medanesia.com – Kementerian Agama dan Ormas Islam sepakat memutuskan bahwa Idul Fitri 1440 H di Indonesia jatuh pada hari rabu, tanggal 5 Juni 2019. Artinya, antara pemerintah dan dua ormas terbesar di tanah air yaitu NU dan Muhammadiyah tidak ada perbedaan tanggal 1 Syawal. Banyak pihak berharap momentum Lebaran 1440 Hijriyah ini bisa dimanfaatkan sebagai ajang renungan dan rekonsiliasi bahkan introspeksi bagi para elite politik di tanah air. Soalnya, selama enam bulan terakhir ini, ancaman perpecahan dan benturan horizontal sudah ada di depan mata, dan belum menunjukkan eskalasi yang menurun.

Selama enam bulan kita seolah memasuki “perang pemilu” dalam memperebutkan kekuasaan tertinggi secara nasional yaitu kekuasaan legislatif dan eksekutif pada semua level. Kedua kandidat beserta pendukungnya sama-sama mengerahkan kekuataan terakhirnya. Kelompok satu mengandalkan kekuataan sebagai petahana dengan tema nilai-kebangsaan, sementara kelompok kedua mengandalkan kekuataan oposisi dengan tema nilai-keagamaan.

Tanpa disadari, keduanya telah “berjasa” menyuntikkan segala macam benih-benih perpecahan kepada masyarakat. Tanpa sadar, keduanya berhasil menyihir masyarakat untuk berfikir dan bertindak yang sama dengan mereka. Sehingga jadilan masyarakat terseret arus deras konflik ditanah air, yang sesungguhnya merupakan persaingan para elite, dalam berebut pucuk pimpinan nasional maupun daerah.

Perebutan kekuasaan utamanya kekuasaan presiden, sudah mirip dengan “perang di medan tempur” yang serius dan sungguh-sungguh. Keduanya saling melempar narasi. Narasi (wacana/kata) kini berubah bagai “bom molotov” yang mengguncang kesadaran publik tanah air. Yang satu mengeluarkan narasi “perang total”, membalas narasi “perang badar” kelompok yang kedua. Kemudian kelompok kedua menyambut lagi dengan melepaskan narasi “people power”, yang langsung disambut kelompok pertama dengan “makar”. Banyak orang menolak cara-cara penangkapan sebagai solusi meredakan eskalasi, melainkan malah memicu dendam. Akhirnya, perang kata-kata (caian-makian), narasi, terus bergelora di medsos tak berhenti, berjalan berdampingan dengan penangkapan berbagai tokoh dengan alasan makar. Saling

Banyak orang meradang, meski sedang puasa di bulan ramadhan. Hawa bulan ramadhan pun dirasakan benar-benar panas terasa. Upaya untuk menjadikan ramadhan sebagai bulan “menahan diri”, pupus sudah. Kini banyak pula yang memaknai ramadhan sebagai bulan “berperang”, sebab secara historis banyak perang justru di bulan ramadhan. Suasana ramadhan pun akhirnya tetap panas menggelora. Berbagai narasi saling cibir dan serang terus berlanjut di media sosial.

Kini bulan Ramadhan sudah berakhir. Satu momentum pendinginan secara spritual sudah terlewati. Banyak pihak juga tak kurang akal, masih ada momentum di bulan Syawal yaitu momentum menyambut hari yang fitrah (Idul Fitri 1440 H) setelah 30 hari latihan menahan diri. Kini saatnya bagi siapapun, wabil khusus kepada elit pihak yang berseteru, dihimbau untuk saling bermaafan, sebab salah dan dosa sudah takdir sebagai salah satu pelengkap dalam kehidupan manusia. Himbauan pun dilancarkan banyak kalangan, agar para pihak yang baru saja “tempur” di Pemilu 2019 bisa bertemu fisik dan saling memaafkan setidaknya saling membangun pengertian.

Dapatkah Idul Fitri 1440 H sebagai momen kembali menyatukan perpecahan dikalangan elit dan massa yang bertikai? Berdasarkan pengalaman-pengalaman tahun demi tahun sebelumnya, dapat disimpulkan tidak semudah “membalikkan telapak tangan”. Secara fisik kedua belah pihak (01 dan 02) bisa saja bertemu, berlebaran, sebagaimana keinginan beberapa pihak. Keduanya bisa saja melakukan cipika-cipiki, makan bersama, tertawa sendagurau, dan saling maafan dan saling puji di depan layar seperti sandiwara hanya untuk memenuhi selera penonton. Namun, lagi-lagi secara substantif dan esensial apalagi secara bathiniah rasanya sulit jika hal-hal yang bersifat fundamental dalam urusan kebangsaan dan kenegaraan diselesaikan dengan perjumpaan fisik yang simbolik dan artifisial, terlebih sebagai acting.

Ada baiknya pihak-pihak pengusul juga merenung, bahwa selain ketemu fisik, adalah penting untuk merenungkan ketemu secara ideologis, ketemu visi, ketemu tujuan terlebih ketemu bathiniah yang hakiki sebagai sesama anak bangsa. Kita tak bisa lagi mendorong-dorong pertemuan secara pisik yang tak ada artinya, kalau yang ada di dalam kepala urusannya hanya untuk “menguasai” dan “memiliki” harta negara demi kepentingan pribadi dan golongan apalagi orang luar. Melihat Indonesia dari sekedar perebutan Sumber Daya Alam, perebutan Kekuasaan, dan sebagai Barang Dagang yang siap dipasarkan ke Dunia Internasional adalah cara pandang yang jelas mengkhianati nilai luhur yang temaktub dalam Pancasila, dan dampaknya akan sangat pedih bagi generasi penerus kelak.

Bagi semua pihak adalah penting untuk merenungkan makna kebangsaan dan ke-Indonesiaan yang sesungguhnya sudah kian redup dan luntur. Saatnya bagi semua pihak untuk merenungkan makna ber-Tuhan, ber-Adab, ber-Satu, ber-Musyawarah dan ber-Keadilan, dengan menjadikannya sebagai landasan gerak kebangsaan dan ke-Indonesiaan kita hari ini. Semoga momentum Idul Fitri 1440 H dapat menjadi renungan bagi semua pihak, fisik, mental-spritual, bertemu dalam satu impian mewujudkan sumpah bangsa Indonesia yaitu terwujudnya suatu bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tidak lupa kami sampaikan, “Selamat idul Fitri 1440 H, Mohon Maaf Lahir & Bathin”. (DDP)