HeadlinesKelas FilsafatPolitik

Pemilu 2019 dan Hilangnya Harta Pusaka

58 Views

Medanesia.com – Partisipasi pemilih 80% pada Pemilu 2019 adalah angka tertinggi selama 5 kali Pemilu era reformasi (1999-2004-2009-2014-2019), ini prestasi luar biasa, karena itu Pemilu 2019 ini wajib disyukuri, demikian teriak dan harap KPU dan para pengamat. Dengan berbagai argumen banyak pihak kini menjadikan “partisipasi” pemilih yang meningkat sebagai bancakan untuk menerima “imbalan” yang mereka butuhkan. Semuanya mengklaim merasa berjasa berhasil mendorong pemilih datang ke TPS. Benarkah?

Partisipasi pemilih yang tinggi dalam Pemilu 2019, jelas bukan dirancang oleh siapapun. Selama puluhan tahun partisipasi pemilih tak berhasil dinaikkan oleh siapapun, malah menurun. Naiknya partisipasi pada Pemilu 2019, justru karena bekerjanya secara aktif “sel identitas ke-Islaman” yang selama ini tidur, yang memantik “sel kebangsaan” lainnya yang juga selama ini cuek. Semakin emosional, karena adanya pengaruh media sosial yang cukup sukses menyeret emosi warganet utamanya kalangan milenial. Dengan media sosial, semua pikiran orang kini diaduk-aduk, dibenturkan, dipukul-pukul, dan digoda untuk diseret pada keinginan sekelompok orang.

Pemilu 2019 tak obahnya seperti menyuntikkan “hantu” dalam kesadaran bangsa Indonesia. Tanpa sadar semua orang menebar ”ketakutan” kepada siapa saja. Ketakutan terhadap apakah yang sudah ditebar? Bagi pendukung 01 kemenangan 02 adalah suatu “horor” yang menakutkan, sebab kelompok Islam yang selama ini sudah menebar kebencian akan berkuasa, dan akan membatasi kebebasan sekelompok minoritas. Sebaliknya bagi pendukung 02, kemenanangan 01 jelas adalah “horor”, karena kelompok yang selama ini dituding anti Islam akan berkuasa dan akan membatasi gerak Islam di tanah air.

Bayangan akan ancaman ketakutan itulah yang kemudian dijadikan “amunisi” dan kemudian “ditembakkan” kedalam kepala pemilih. Para pemilih yang selama ini “tidur” ketika mendapat tembakan dikepalanya bukan malah “mati” melainkan malah “hidup”. Sel-sel yang selama ini tidur, golput, apatis kini tersadar dan bangkit dan datang ke TPS. Semuanya di dorong oleh satu motivasi yaitu untuk menghindari adanya “ancaman” terhadap masa depan mereka dari kelompok “seberang”, karena itu calon mereka wajib dimenangkan. Selaras dengannya “kebencian” antar satu kelompok dengan kelompok lainnya yang berbeda tumbuh menguat.

Dengan suasana Pemilu 2019 yang sedemikian rupa, jarum jam sejarah pertikaian SARA kembali hidup. Lautan manusia terbelah, keduanya merasa pada pihak yang benar. Perbedaan tak terdamaikan dan menemui jalan buntu. Perjalanan sejarah kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kemudian macet, bahkan berputar ke belakang. Kita berjalan mundur.

Semuanya kini bertumpu pada meja pengadilan, pada ketukan palu Mahkamah Konstitusi (MK). Namun belum pun MK bersidang, keduanya telah sibuk pula mengingatkan MK. Bagi keduanya keputusan MK yang benar adalah yang memenangkan mereka. Narasi tekanan psikologis kepada MK pun tak terhindarkan terus ditebar di media. Benih-benih konflik kembali menebal menyambut persidangan MK yang sebentar lagi akan berjalan. Beragam komen dari berbagai kalangan yang berasal dari kedua kelompok termasuk pakar, terus bermunculan, yang turut menjadi bara api yang semakin memanaskan situasi.

Akibatnya, hari demi hari, kita semakin kehilangan “narasi pendingin”, kehilangan mekanisme penyelesai masalah, kehilangan “pegangan” yang menjadi rujukan, kehilangan “tangan” yang dapat mendamaikan situasi. Ibarat pertikaian, kita sedang bertikai tanpa wasit, tanpa rambu-rambu, tanpa waktu, tanpa aturan main, dan tanpa istirahat. Seolah kita sedang bertarung di jalanan, dimana hanya kematian yang bisa menghentikan pertikaian.

Kini, sesungguhnya yang pantas kita lakukan adalah menangisi apa yang terjadi saat ini bukan malah gembira dan berharap “jatah” dari bancakan Pemilu 2019. Sejatinya, kita justru telah kehilangan pusaka terakhir kita yang paling berharga. Pusaka yang yang pernah dititipkan kepada kita untuk mewujudkan kebahagiaan sebagai saudara.

Tanpa sadar, kita telah kehilangan pusaka luhur nan mulia, ya… kita telah kehilangan Tuhan, Keadaban, Persaudaraan, Kebijaksanaan dan Keadilan. Jika yang luhur kini tiada, dan yang ada hanya politik uang, saling gugat, dan saling tidak percaya, bahkan diambang kehancuran, masih pantaskah kita berharap “siulan dan tepukan” dari khalayak? Terlalu! (DDP)