HeadlinesKelas FilsafatPolitik

Pegangan Kebenaran : Antara Musyawarah dan Voting

63 Views

Medanesia.com – Bagi Nietzsche, semua manusia adalah mahluk yang sangat membutuhkan “pegangan” agar ia tidak tenggelam di laut lepas. Manusia butuh Tuhan, Sains, atau apapun itu, yang sungguh-sungguh dia yakini bisa dijadikan “pegangan” agar ia sampai ketujuan dalam mengarungi luasnya samudera kehidupan.

Bagaimana dengan manusia yang tak percaya Tuhan ataupun Sains sebagai pegangan? Bagi Nietzsche “ketakpercayaan” pada Tuhan dan Sains itupun adalah suatu “Kepercayaan” yang juga secara sungguh-sungguh dijadikan “pegangan” oleh yang bersangkutan. Pendeknya, pegangan adalah mutlak dalam kehidupan manusia sepanjang masa.

Soalnya adalah, bagaimana kalau “pegangan” yang kita yakini benar dan kokoh itu ternyata justru adalah “pegangan” yang rapuh atau bahkan sebetulnya “tidak ada”? Bagaimana kalau yang kita “pegang” itu sesungguhnya hanyalah suatu “hayalan” yang kita ciptakan sendiri, yang sesungguhnya tidak ada?

Dalam Pemilu ke Pemilu suatu “pegangan” yang kita jadikan syarat untuk terpilihnya seorang pemimpin yang baru adalah “voting” (pemungutan suara terbanyak). Voting telah kita yakini sejak merdeka adalah suatu mekanisme yang dapat kita jadikan standar kebenaran dalam menentukan keterpilihan seorang pemimpin diberbagai level. Dengan mekanisme pemungutan suara, dan kemudian menghitungnya, dimana calon pemimpin yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pemimpin telah kita yakini sebagai suatu cara yang terbaik dan luhur dibandingkan dengan yang lain.

Awalnya, mekanisme voting tampak sebagai mekanisme yang biasa saja dan tanpa masalah, sehingga dalam setiap acara pemilihan, mekanisme voting pun diyakini sebagai yang terbaik. Namun, dalam perjalanan ternyata mekanisme voting membawa dampak negatif yang tak terelakkan. Mekanisme voting jelas-jelas hanya mensyaratkan suara terbanyak.

Prinsipnya, semua orang bisa menjadi pemimpin asalkan memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan, dan terpilih jika dalam voting memperoleh suara terbanyak. Dengan hanya bermodal suara terbanyak akan terpilih sebagai pemimpin itulah yang kemudian memantik semua orang untuk “bertaruh” ikut dalam pemilihan sebagai pemimpin masyarakat.

Dengan voting semua orang merasa dibangkitkan selera dan nafsunya untuk ikut bersaing menjadi pemimpin apakah itu legislatif ataupun eksekutif. Dengan voting segala hal menyangkut keterbatasan moral-spritual, keteladanan, kemampuan kini bisa disingkrikan. Akibatnya semua orang yang jelas-jelas tunasusila, tunamoral, tunaspritual, tunarasio, kini malah merasa difasilitasi oleh voting untuk ikut bersaing menjadi pemimpin. Voting justru menjadi karpet merah bagi siapa saja, termasuk bagi mereka yang jelas-jelas punya penyakit “idiot”, “ayan”, dan mungkin “gila” untuk memimpin masyarakat, sebab semua penyakit itu tak terdeteksi oleh syarat yang sudah ditentukan.

Namun kembali ingat kata Nietzsche, bahwa kehendak mati-matian akan kebenaran jelas akan berujung menjadi mematikan. Kehendak matia-matian untuk selalu melakukan “voting” dalam memilih pemimpin jelas akan menjadi “kuburan” suatu bangsa. Kehendak mati-matian untuk voting, jelas akan menyingkirkan, meniadakan, menegasikan, dan mencampakkan semua keluhuran yang lain. Tanpa rasa bersalah, semua perancang dan penikmat sistem voting akan mengatakan votinglah yang terbaik, dan semuanya dilakukan demi kemakmuran Indonesia.

Intinya, kita telah tiba pada krisis yang besar, sebagaimana kata Nietzsche tentang krisis yang melanda umat manusia pada akhir perjalanan kehidupannya di jagad global saat ini. Sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, yang meyakini “musyawarah mufakat” sebagai identitas, “memegang” mekanisme voting adalah wujud dekadensi yang teramat besar dari pengamalan Pancasila. Kita bukan saja tanpa sadar telah “memegang” voting sebagai sesuatu yang sesunggunya “imajiner” dalam ikut serta mewujudkan cita kemerdekaan, lebih dari itu kita sesungguhnya telah “memegang” sesuatu yang tidak ada (nihil).

Setyo Wibowo mengatakan (mengutip Nietzsche), apa jadinya jika manusia tanpa pegangan? Dimanakah utara dan selatan? Tanpa gravitasi bukankah kita akan melayang-layang tanpa arah? Bukankah tanpa matahari, malam kita akan semakin panjang dan kelam? Bukankah kita sebagai bangsa Indonesia kini diliputi keresahan, terombang-ambing tidak jelas, terancam konflik yang tak berkesudahan, terperosok dalam jurang yang teramat dalam?

Impian mewujudkan cita kemerdekaan tanpa “pegangan” yang luhur sebagai yang kita yakini jelas adalah fatamorgana. Trilyunan rupiah biaya perhelatan, kematian petugas yang mencapai ratusan jiwa, konflik dan sumbatan persaudaraan, adalah fakta kebebalan kita akan “pegangan voting” yang kita yakini sebagai kebenaran. Sampai akhirnya, kini kita kehilangan arah, kehilangan orientasi, terombang-ambing, dan akhirnya nurani kita “mati”, dimana pembunuhnya tak lain kita sendiri. (DDP)