EkonomiHeadlinesKelas Filsafat

Visi Membangun Manusia Indonesia

43 Views

Medanesia.com – Pasca Pemilu 2019, para perencana pembangunan, kaum teknokratik, kini mulai memunculkan usulan dan gagasan Indonesia ke depan. Beberapa diantaranya mulai mengusulkan tentang suatu proyek tentang “visi membangun manusia Indonesia lima tahun ke depan”. Mungkin, lima tahun masa Jokowi yang banyak berpusat pada pembangunan fisik (infrastruktur), sudah saatnya diimbangi dengan pembangunan manusia lima tahun ke depannya. Sehingga ada keseimbangan antara pembangunan fisik dengan pembangunan manusia Indonesia.

Belajar dari sejarah, mestinya kita ingat, bahwa dalam sejarah proyek pembangunan di dunia pasca perang dunia kedua (PD-II), proyek pembangunan fisik di negara-negara miskin yang dilakukan Barat (Marshal Plan), dalam rangka mengkatrol negara miskin menjadi negara maju telah gagal total. Para teknokrat Barat, sedari awal langsung berfikir cepat hendak “mengubah” negara miskin menjadi negara maju. Tujuannya bukan hanya hendak mengubah landscape negara Timur menjadi seperti Barat, lebih dari itu adalah untuk kepentingan Barat dalam menjaga superioritasnya melawan Blok Komunis yang juga gencar mempengaruhi negara-negara miskin.

Bagi Barat, cara mudah mengubah negara miskin adalah dengan melakukan pembangunan fisik mencontoh Barat. Inilah proyek modernisasi Barat yang digadang-gadang akan membawa kemakmuran bagi dunia. Dengan perubahan fisik, panorama negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin diharapkan akan berubah menyamai apa yang kelihatan di Barat. Untuk itu semua Barat menyediakan apa saja, mulai dari konsep (ideologi), sistem (ipoleksosbudhankam), uang (hutang), tenaga ahli (teknokrat), teknologi (mesin), dan persenjataan (militer).

Apa yang terjadi? Kehidupan dan lingkungan alam di Timur yang awalnya alamiah pun kemudian “disulap” menjadi lingkungan buatan. Negara miskin berubah, menjadi negara-negara semi industri dan industri dengan banyaknya pembangunan jalan, gedung, pabrik, perkotaan, teknologi, persenjataan/militer, dan sistem kehidupan.

Selama sekian puluh tahun, negara Asia, Afrika, Amerika Latin pun berubah. Terjadi modernisasi pembangunan di negara-negara miskin pun terjadi, meski disaat yang bersamaan juga terjadi turbulensi. Berbagai kemajuan di banyak sektor tumbuh, namun berbagai masalah pembangunan juga muncul seperti sosial, budaya, pendidikan, politik, dan lingkungan. Banyak orang pintar tumbuh namun orang jahat juga banyak lahir. Banyak uang mengalir, namun semakin banyak tindak korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) di semua level pemerintah. Banyak orang kaya, namun disparitas/kesenjangan, konflik politik, kenakalan remaja, narkoba, dan dendam dari kaum miskin terhadap orang kaya juga tumbuh semerbak. Akibatnya muncul upaya koreksi terhadap modernisasi pembangunan fisik di negara-negara miskin.

Para teknokratik tak kehabisan akal dengan memunculkan konsep baru yang digadang-gadang sebagai jalan keluar, yaitu konsep “pembangunan berpusat pada manusia” (people centre development). Pembangunan mestilah ditujukan untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, bukan semata untuk membangun fisik saja. Proyek-proyek pendidikan, pelatihan diperbanyak, begitu juga proyek kesehatan, tidak ketinggalan proyek kesejahteraan. Indeks pembangunan manusia (IPM) pun digunakan sebagai alat untuk mengukur pembangunan manusia di berbagai negara. Namun berbagai kendala pembangunan antar negara, perang dan konflik, kerusakan sumber daya alam, penyakit amoral (narkoba, kejahatan seksual, dll), hingga ancaman pemanasan global telah menghantui umat manusia.

Bagaimana Visi Membangun Manusia Indonesia Masa Depan?

Para teknokrat sejauh yang berhasil diamati, hari ini tetap tidak beranjak dari gagasan awal tentang pembangunan manusia sebagaimana yang digagas para teknokratik global. Semuanya berkutat pada gagasan memperbesar dan memperluas proyek pendidikan, pelatihan, kesehatan, kesejahteraan (mental wiraswasta, modal, pasar, produk, daya saing, manajemen, dll), dengan berbagai variannya. Ukurannya, berkurangnya angka kemiskinan, berkurangnya kesenjangan (gini rasio), meningkatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya IPM, dan juga meningkatnya indeks kebahagiaan (kepuasaan hidup, perasaan, dan makna hidup). Pendeknya, bagaimana mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, sehat, berkarakter, produktif, dan berdaya saing dalam menghadapi persaingan global yang siap “memangsa”.

Sepintas tak ada yang salah, namun jika di dalami, pemikiran teknokratik demikian sarat akan pengulangan kegagalan. Proyek pembangunan manusia mulai dari konsep PCD, MDGs, hingga SDGs, terancam mengulangi nasib yang sama sebagaimana proyek pembangunan manusia global yang sudah lebih dahulu beroperasi dan dengan ukuran yang lebih canggih, namun gagal total.

Bahkan Franz Magnis pernah mengingatkan, bahwa makna narasi “membangun manusia Indonesia” sesungguhnya tidak tepat jika dimaksudkan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang seutuhnya (lahir dan bathin). Sebab makna membangun berkonotasi membangun secara fisik dan itu semua ciptaan para teknokratik. Sehingga jika para teknokrat (para ahli) merancang suatu proyek tentang “visi pembangunan manusia indonesia” maka yang akan dilakukan pasti membuat proyek-proyek pembangunan manusia berupa pelatihan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan. Proyek pembangunan jelas tidak akan mampu menyentuh “sisi manusia yang sesungguhnya”.

Lihatlah apa yang terjadi dengan realitas berbagai masalah manusia Indonesia saat ini. Kita jelas sudah diambang “kematian” sebagai bangsa, merujuk pendapat ratusan antropolog Indonesia (2017) yang mengatakan bahwa kita sudah kehilangan identitas sebagai bangsa yang Pancasilais. Kita juga tak mampu menahan “serangan” narkoba, seks bebas yang cukup deras merasuki jiwa anak-anak bangsa. Kita juga tak mampu menghentikan politik uang dalam setiap pemilu, tak mampu menhentikan KKN, tak mampu menghentikan kerusakan sumber daya alam, tak mampu menyelematkan aset-aset berharga.

Apakah itu masalah terbesar kita?

Dari begitu banyak masalah, masalah terbesar yang kita miliki bukan masalah yang banyak kita sebut diatas. Masalah kita sesungguhnya adalah masalah ideologi, tepatnya kita kehilangan pondasi nilai dasar (ideologi). Akibatnya semua sistem dan sub-sistem kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang diletakkan diatasnya cepat roboh. Sistem politik, ekonomi, sosial, hukum dan budaya serta pertahanan dan keamanan tidak mampu mewujudkan cita bahagia bersama. Kita lupa bahwa pondasi ideologi kita rapuh.

Ideologi Pancasila jelas tidak beroperasi dalam ruang kesadaran kita. Karenanya, yang kita butuhkan saat ini adalah “pembangunan ideologi”. Proyek yang mestinya kita rancang adalah proyek “menyemai” dan “menanam” benih-benih luhur dalam kesadaran seluruh anak negeri. Kemudian merawatnya hingga tumbuh kembang, agar suatu hari kelak muncul generasi yang ber-Tuhan (sanggup melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan sanggup menjauhi apa yang dilarang Tuhan), ber-Adab (sanggup menjujnjung sikap luhur dan mulia), ber-Satu (mendahulukan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi dan keluarga serta golongan), ber-Musyawarah (bijak dalam bersikap), dan ber-Keadilan (menempatkan sesuatu pada tempatnya, menempatkan koruptor dipenjara, dan menempatkan yang luhur sebagai pemimpin).

Hemat kami yang dari pinggiran ini, visi pembangunan nasional ke depan, mestilah pembangunan yang berpusat pada ideologi bukan berpusat pada yang lain, bukan pembangunan yang berpusat pada manusia (pendidikan, kesehatan. Kesejahteraan), apalagi berpusat pada pembangunan fisik. Pembangunan berpusat pada ideologi adalah pembangunan yang mempersyaratkan keteladanan bukan kemunafikan, berlomba berbuat baik bukan berlomba buat kerusakan, berjiwa besar bukan berjiwa kerdil, berjiwa kesatria bukan berjiwa pengkhianat terhadap cita kemerdekaan, sanggup berkorban harta dan jiwa untuk bangsa bukan justru menguras harta negara untuk bangun rumah, dan semua itu dimulai dari diri sendiri. (DDP)