EkonomiHeadlinesPolitik

OBOR China, Menerangi Atau Membakar?

45 Views

Medanesia.com – Pada bulan Oktober 2013, Presiden China Xi Jinping memperkenalkan program perdagangan dan ekonomi “Jalur Sutera” yang dia sebut inisiatif “satu sabuk satu jalan” (one belt one road/OBOR), yang meliputi Eurasia (Asia, Afrika, Eropa) dengan pusatnya Tiongkok. China berharap dengan program OBOR ada sedikitnya 70 negara yang akan terkoneksi nantinya.

Konsepnya, China akan berinvestasi ke 70 negara negara Asia, Afrika dan Eropa yang masuk dalam skema perdagangan OBOR tersebut. Mengucurkan pinjaman tidak kurang dari 2000 Trilyun per tahun. Pinjaman mencakup pembangunan infrastruktur, material konstruksi, kereta api, jalan raya, mobil, real estate, jaringan listrik, besi dan baja di 70 negara tersebut.

Mengapa China membuat program OBOR? Secara historis, ada kesan ingin menghidupkan Jalur Sutra sebagai jalur perdagangan kuno masa lalu. Namun secara faktual, China kini sedang terlibat persaingan atau “perang” ekonomi dengan Barat. Harus diakui, China kini tumbuh sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia yang sangat diperhitungkan Barat.

Bersamaan dengan Barat dan negara-negara lainnya membangun inisiatif untuk merebut perdagangan dunia, China tak mau ketinggalan. Denga OBOR-lah China berupaya menghentikan laju Barat, dan gantian merebut persaingan ekonomi dan perdagangan dunia utamanya pasar Asia, Afrika dan Eropa. Dengan OBOR China telah memberi sinyal lkuat, bahwa mereka telah siap untuk menghadapi intervensi ekonomi Barat.

Adakah yang salah dengan OBOR? Tentu saja tidak. Dalam persaingan ekonomi dunia, setiap negara bebas saja membuat inisiatif jalannya masing-masing bagi melindungi dan mensejahterakan rakyatnya masing-masing. Lihat saja Indonesia, Presiden Jokowi juga telah menyusun program “poros maritim” untuk masuk jajaran 4 besar ekonomi dunia 2045. Begitu juga Arab Saudi dengan visi 2030-nya untuk menjadikan Arab Saudi kampiun di Timur Tengah menggeser Iran yang juga sedang bersiap-siap mengembangkan sayapnya di kawasan Timur Tengah. Begitu juga dengan Inggris melalui Brexitnya. Begitu juga Amerika dan tidak ketinggalan Eropa.

Pendeknya semua negara bebas merdeka mengembangkan inisiatifnya. Semua negara juga tidak diwajibkan untuk ikut inisiatif suatu negara. Semua negara juga dihalangi untuk bekerjasama dengan negara manapun. Pendeknya, ikut tidaknya Indonesia dalam program inisiatif seperti OBOR adalah hak sepenuhnya bangsa Indonesia melalui Pemerintah. Semua kebijakan dalam rangka kerjasama strategis jangka panjang mestilah diletakkan diatas pondasi kepentingan serta kedaulatan nasional dalam jangka panjang, sehingga semua kebijakan tetap akan membawa konsekuensi yang positif bagi generasi mendatang bukan malah meninggalkan penderitaan.

Bagiamana sikap Indonesia terhadap OBOR China? Indonesia dibawah Pemerintahan Jokowi bersikap positif dan menyambut baik terhadap program OBOR China. Melalui program OBOR berbagai proyek nasional sudah berjalan mulai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, PLTA Sungai Klayan, Kawasan Industri Tanah Kuning, yang dilaksanakan dengan konsep bisnis dengan bisnis (B to B). Bahkan pada 27 April 2019 sudah dilakukan 23 MoU antara pebisnis Indonesia dan China di Beijing. Pemerintah beralasan bahwa program OBOR lebih aman, setidaknya karena menganut konsep Bisnis ke Bisnis bukan seperti selama ini dengan Barat yang menganut konsep Pemerintah ke Pemerintah (G to G).

Namun sebaliknya dari banyak kalangan lain di Indonesia, menganggap program OBOR China justru negatif. Alasannya, program China selalu didompleng kepentingan memasukkan tenaga kasar (buruh China) sebagai pekerja, sehingga menyingkirkan buruh lokal dan kepentingan nasional. Belum lagi investasi China kerap kali tidak memenuhi standar lingkungan, HAM dan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Karena itu penting bagi pemerintah untuk berhati-hati atau bahkan menolak program OBOR.

Manakah logika yang mesti diikuti?

Tentu saja sebagai pemerintah yang hari memperoleh mandat dari rakyat, pilihan Jokowi untuk menyambut program OBOR China mesti dihormati. Lepas dari ada begitu banyak masalah yang terdapat di dalamnya. Soalnya kita sudah terlalu lama bergelut dalam skema inisiatif Barat sejak merdeka, yang juga tak memberikan keuntungan apapun bangsa Indonesia selain kerusakan sumber daya alam, kerusakan moral, dan baku hantam horizontal.

Karena itu menerima inisiatif OBOR China juga adalah suatu upaya keluar dari jebakan masa lalu, meskipun juga sebagai suatu eksperimen baru, yang juga mesti dicoba. Sehingga kalau juga gagal, berarti memang sudah nasib kita untuk terkubur dinegeri sendiri. Namun menilai itu semua perlu waktu, sehingga suatu saat kelak kita bisa membuktikan apakah OBOR China itu akan menjadi penerang, atau menjadi api pembakar negeri kita. (DDP)