HeadlinesKelas FilsafatPolitik

Serial Diskusi Kepemimpinan : Defenisi Pemimpin & Kepemimpinan (Part 2)

45 Views

Medanesia.com – Menurut Brown yang dimaksud dengan pemimpin adalah sosok atau kepribadian seseorang yang menduduki posisi dan potensi tertinggi dalam suatu organisasi baik organisasi formal maupun informal (Brown, 1936). Menurut banyak pakar lainnya pemimpin adalah orang – orang yang menentukan tujuan, motivasi dan tindakan kepada orang lain. Pendeknya, pemimpin adalah orang yang memimpin baik pada organisasi yang resmi maupun yang tidak resmi.

Secara umum pemimpin resmi diangkat atas dasar surat keputusan resmi dari orang yang mengangkatnya dan biasanya mendapat upah atau ganjaran, sedangkan pemimpin tidak resmi diangkat secara otomatik atau mengikuti garis keturunan atau berdasar mekanisme adat-istiadat tanpa surat-suratan dan tanpa upah maupun ganj aran. Pemimpin formal diangkat lebih didasarkan atas pertimbangan struktural yang wajib ada dan berfungsi untuk mengendalikan dan mensukseskan organisasi sementara pemimpin informal lebih didasarkan atas pertimbangan kultural yang berfungsi mentransformasi nilai-nilai budaya yang telah dibawa secara turun temurun. Pemimpin formal bisa berganti-ganti sesuai dengan pilihan anggota sementara pemimpin informal berdasarkan garis keturunan ataupun garis ke-adatan yang sudah otomatik tanpa pemilihan. Pemimpin formal ditaati sebatas otoritas yang disepakati sementara pemimpin informal ditaati untuk seluruh peri-kehidupan yang berlangsung.

Mereka yang diangkat sebagai pemimpin umumnya dengan alasan bahwa mereka memiliki kelebihan dari anggota lainnya. Seorang pemimpin ada yang memiliki kelebihan secara natural ada juga yang memiliki kelebihan secara eksternal. Secara natural tidak sedikit pemimpin memiliki bakat dan watak sebagai pemimpin serta memiliki sifat-sifat pemimpin yang bijaksana. Adapun kelebihan dari luar dirinya seperti adanya hubungan baik dengan yang sedang berkuasa, punya banyak relasi, berasal dari keluarga kaya atau berasal dari keluarga penguasa atau bangsawan.

Sementara kepemimpinan menyangkut seni, ketrampilan, kecakapan atau kemampuan yang dimiliki pemimpin tersebut dalam mengendalikan, mempersatukan, mempimpin, mengkoordinasikan, mempengaruhi fikiran-perasaan-tingka laku orang atau masyarakat yang dia pimpin, yang sebelumnya individualistik dan egosentrik menjadi perilaku organisasional dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan (Suradinata 1997; Siagian 1986; Arep & Tanjung 2003). Jadi kepemimpinan adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Syarat Pemimpin: Ideolog, Ideologisasi & Mempraktekkan Keteladanan

Syarat seorang pemimpin yang hakiki (mendasar) adalah sebagai ideolog. Maknanya, seluruh nilai luhur yang dijunjung tinggi suatu bangsa (nilai Pancasila) mestinya telah terideologisasi (terinternalisasi), terjiwai terlebih dahulu di dalam diri pemimpin. Plato mengatakan yang pantas menjadi pemimpin bangsa itu hanyalah seorang philosof, seorang yang bijaksana. Hanya ditangan seorang ideolog/philosof/bijaksana rakyat akan bahagia.

Seorang pengusaha sukses berujar bahwa yang paling penting dipahami dan dijiwai oleh para karyawannya adalah falsafah perusahaan mereka. Tidak pada tempatnya lagi karyawan digerakkan oleh sekedar mencari keuntungan semata. Perusahaan mereka dapat bertahan berpuluh tahun hanyalah karena selalu mentegakkan falsafah perusahaan yang selalu menomorsatukan pelayanan prima dan memberikan yang terbaik kepada pelanggan mereka. Mereka sangat menyadari jika pelanggan adalah segalanya.

Seorang murid Kon Fu Tsu berujar bahwa suatu bangsa yang besar terdiri dari tiga unsur yaitu adanya tentara yang kuat, adanya kecukupan sandang pangan, serta adanya suatu ideologi. Namun Kon Fu Tsu mengatakan bahwa tentara yang kuat boleh saja tidak dimiliki, sandang-pangan boleh saja seadanya, namun yang mesti ada dan kuat dan tidak boleh tidak ada adalah ideologi. Sebab ideologi itulah “ruh” yang menghidupi bangsa tersebut. Dengan memiliki “ruh” itulah suatu bangsa berjalan, berdiri tegak, dan berkembang. Tanpa adanya ideologi suatu bangsa pasti akan rubuh dan musnah. A nation without faith can not stand.

Dengan demikian, tugas utama seorang ideolog (pemimpin), adalah mengideologisasi rakyatnya/pengikutnya (transformasi). Pemimpin wajib mentransformasi seluruh nilai baik/mulia yang ada pada kesadaran pengikutnya. Bung Karno setelah merdeka, acapkali memberikan kuliah tentang Pancasila, menjelaskan latar belakangnya, philosofinya dan penjelasan sila demi sila dalam Pancasila. Namun Bung Karno juga mencontohkan bagaimana sikap seorang Pancasilais itu. Seorang ayah kadang memberikan petatah-petitih bagi anak-anaknya sebagai upaya membentuk mentalitas dan spritualitas anak. Namun dari perbuatan sang Ayah selama bertahun-tahun akhirnya kita tahu apa yang sesungguhnya dipikirkan Ayah dan apa sesungguhnya yang sedang dia perbuat. Jadi transformasi bisa dilakukan secara langsung dalam bentuk praktek bisa juga dilakukan dengan pendidikan dan lainnya.

Khusus menyangkut keteladanan, dalam keseluruhan praktek kepemimpinan yang kuat, keteladanan adalah yang paling kuat dalam membentuk karakter pengikut (anggota). Banyak pengrajin butuh magang pada pengrajin senior untuk melihat secara langsung praktek yang hendak mereka contoh. Kadang dengan melihat secara langsung jauh lebih mudah untuk mencontoh ketimbang diterima secara teoritik. Dengan mencontoh secara langsung, pengikut akan lebih yakin dengan pemimpinnya.

Karena itu, faktor keteladanan adalah satu dari empat faktor untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yaitu : idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration (Bass dan Avolio, 1994). Dalam kepemimpinan transformatif pemimpin adalah sebagai sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi bawahannya, menjadi motivator dan pendorong semangat, menumbuhkan kreativitas dan inovasi serta bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi orang yang mengikutinya. Menurut Northouse (2001), kepemimpinan transformasional jauh lebih efektif dengan hasil kerja yang lebih baik.

Di Jepang, tidak sedikit Perdana Menteri yang mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik bila kebijakan atau bawahan mereka berbuat salah. Tanggung jawab, harga diri, kehormatan, dan utamanya rasa malu adalah ajaran-ajaran kemuliaan yang tetap terjaga hingga saat ini. Masyarakat Jepang sangat kagum dan selalu terinspirasi oleh norma-norma Samurai yang sangat mereka junjung tinggi dan sangat mereka hormati yang hidup pada masa Samurai ratusan tahun silam.

Sudah menjadi ciri utama Samurai bahwa kehormatan adalah suatu bentuk kesadaran akan harga diri mereka yang hakiki. Mereka percaya bahwa nama baik, reputasi adalah bagian abadi dari diri seseorang yang tersisa dan tak dapat dibagi lagi. Setiap pelanggaran terhadap integritasnya adalah suatu aib yang tak terperikan. Karena itu rasa malu (ren chi shin) adalah satu norma yang paling awal dan utama yang diajarakan sejak masa kacil di dalam rumah tangga. Seorang Samurai juga memiliki keyakinan sama bahwa kehilangan kehormatan seumpama luka di batang pohon, semakin lama akan semakin membesar bukan terhapus. Berabad-abad sebelumnya Mencius mengatakan bahwa rasa malu adalah tanah dari semua norma, dari sikap baik dan moral baik.

Penulis : H. Dadang Darmawan Pasaribu, M.Si (Peneliti Ahli Institut Kolektif, Dosen FISIP UMA)

Baca Artikel Part Lainnya, Klik Serial Diskusi Kepemimpinan