CerpenHeadlines

Cerpen : Kisah Penghuni Bumi (Part 1)

43 Views

Medanesia.com – Setan dan malaikat sudah sekian lama berteman dialam semesta ini, mereka sudah saling memahami dikarenakan hidup dalam waktu yang panjang, sebelum ada ditemukan waktu, dan belum ada yang kenal sama sekali waktu kecuali sang Maha segalanya, kehidupan sangat tentram dan bahkan hampir dalam kebosanan, semua mereka bisa, semua mereka punya, semua mereka ada. Lalu aku dihadirkan di alam semesta oleh Tuhan, untuk menghiasi alam semesta, dan aku mulai berkenalan dengan malaikat dan setan, kami bertiga bermain dan bersendau gurau bersama, lalu tanpa sadar ada yang tak kami sadari bahwa kehadiranku menyebabkan banyak teman-teman baru, dan pantaslah kami tidak tahu karena sang Maha merahasiakan ini dari kami.

Aku sering berkelana menelusuri banyak sisi di alam semesta yang tanpa ruang dan tanpa waktu, berkelanaku ternyata membuat banyak hal-hal baru, disudut ruang sisi sebelah sana, yang aku juga lupa pernah melewatinya, ada sebuah titik kecil yang ternyata bernafas, bergerak.

“Itu adalah bumi” kata Tuhan kepadaku.

“Dia hadir karenamu, dan tak bisa hidup tanpamu, rawatlah ia bagaimana aku merawat kalian”, setan dan malaikat terseret oleh perbuatanku, tapi kami hanya saling senyum dan main mata, trio ini akan merawat sebuah makhluk baru.

“Kami hanya membantu, tapi kau tetap yang bertanggung jawab atas bumi” pesan malaikat dan setan kepadaku. Dan akupun kembali mendatangi sisi yang pernah kulewati dahulu.

Setelah aku hadir ternyata bumi tak sendiri, dia ditemani oleh banyak yang lain, yang juga bernafas dan bergerak. Kehadiranku yang kedua sangat disambut hangat oleh bumi, membasahi tanah, menyejukkan suasana, dan menghangatkan yang awalnya sangat panas. Bumi berterimakasih sebesar-besarnya denganku sehingga memberikan ruang untukku merebahkan badan dan berselonjoran kaki.

Setiap hadirku selalu dinanti oleh bumi dan sekarang juga dinanti oleh teman-temannya, berjuta-juta tahun kami telah berteman baik, namun di suatu ketika ada binatang besar yang terus berkembang menjadi besar menciptakan perkelahian dengan awan, sehingga awan sedikit enggan untuk hadir. Itu adalah kisah lamaku dengan bumi dan teman-temannya, pemberontakan dan penghianatan selalu saja hadir yang membuatku terus berdiskusi dengan setan juga malaikat.

Saat ini setelah berjuta-juta tahun pertemananku dengan bumi dan teman-temannya, aku tetap hadir dan terus hadir untuk menyapa teman-temanku, namun kali ini kehadiranku sedikit berbeda tidak lagi serta merta dan sepenuhnya, kali ini dan untuk beberapa waktu kedepan kehadiranku tergantung oleh bagaimana teman-temanku menanggapi kehadiranku, keputusan ini atas perintah Tuhan dan diskusi panjang antara aku, malaikat dan setan.

Suatu hari diatas langit aku diperintahkan oleh Tuhan untuk hadir dibumi dengan durasi yang cukup panjang, namun malaikat datang “aku telah mendengar cerita dari awan, bahwa awan telah dihianati oleh binatang – binatang besar, lapisan ozon tempatnya bersantai telah diusik oleh kehadiran hewan-hewan besar, maka dari itu awan sedikit terusik hatinya, maka dari itu kau tak lagi boleh hadir”, lalu setan dengan sedikit kebingungan bertanya kepada malaikat “lalu kalau dia (mengatakan aku) tidak hadir lagi untuk menyapa teman-temannya bagaimana bisa mereka melangsungkan kehidupannya”.

Lalu Tuhan menciptakan teman baru untuk mereka yang disebut dengan manusia, yang akan menjaga keseimbangan persekawanan mereka.
Manusia hadir dengan segala kebijaksanaan untuk menjaga persekawanan agar semuanya kembali tenteram, dan akupun kembali menyapa teman-teman dengan bibir tersenyum, berjuta-juta tahun berlangsung dengan sangat tenteram sampai semua teman-teman sangat bahagia, pohon-pohon, binatang-binatang, bumi, awan, dan manusia hidup dengan sangat tenteram, namun di suatu ketika tanpa disadari ada sedikit gejala aneh bahwa manusia perlahan menyakiti teman-teman yang lain, awalnya manusia menumpang diperut gunung untuk menjaga kehangatan, dan berdampingan bersama binatang untuk mencari bagian-bagian pohon yang tak lagi hidup untuk melangsungkan kehidupan tetapi perlahan manusia mulai memakan bagian pohon yang masih hijau dan mulai mengikis dinding-dinding gunung. (Bersambung)

Penulis : Chairul Achmad Fikri (Direktur Divisi Advokasi dan Hukum Institut Kolektif)