CerpenHeadlines

Intersubjective Reality

40 Views

Medanesia.com – Aku termenung menunggu kehadiran sosok mempelaiku yang belum juga datang. Pada bangku pelaminan biru yang sudah tak cantik lagi.

“Hmm.. apakah yang sebenarnya terjadi padanya?”

Sejak tadi kuperiksa smartphone-ku, barangkali dia mau menjawab kebingunganku lewat puluhan panggilan tak terjawab kepadanya, juga belasan pesan singkat yang menanyakan keberadaannya. Aku memang tak kehabisan akal, beberapa keluarganya yang kukenal juga tak luput dari hasrat ke-ingintahuanku, namun hasilnya juga nihil. Kutatap wajah kedua orangtuaku yang tampaknya sulit menjelaskan sebab keterlambatan mempelai wanita kepada para kerabat kami yang bertanya.

Mereka terlihat sangat kelelahan, belum lagi menjelaskan soal kabar miring yang sudah meluas di sekitar, tentang siapa sebenarnya calon istriku. Beberapa orang berbisik-bisik sambil sesekali melihat kearahku yang di selimuti kerisauan. Seyogianya memang dalam budaya yang berkembang di desa kami, dari pihak perempuanlah yang menunggu kedatangan calon pasangannya, dan dinikahkan di rumah pihak perempuan.

Namun kali ini memang berbeda, sebab calon istriku ini sudah tidak lagi diakui sebagai bagian dari keluarga besarnya. Dan tinggallah dia dengan kerabat jauhnya selama beberapa tahun terakhir sampai memutuskan menikah denganku. Suara gemuruh di langit menambah kesan ngeri, dan juga kesan mantap pada mereka yang semakin yakin pernikahanku ini tidak di berkati Tuhan. Rintik gerimis mulai turun ke tanah desa kami. Bercucuran, sama seperti perasaanku yang kini hanyut pada kisah-kisah silam.

“Apakah aku juga tertipu? tidak mungkinlah.. aku sudah menutup rapat-rapat segala aibnya dan mempercayainya. Aku sudah siap dengan segala konsekuensi dan apa yang akan warga desa katakan tentang kami”

Suara gaduh terdengar datang dari halaman depan rumah kami. Seorang kerabatnya datang dalam keadaan basah kuyup sambil sedikit berlari kecil kearah Ayah Ibuku. Ia duduk bersimpuh di dekat ayahku, mendekatkan mulutnya pada telinga ayahku dan berbisik.

“Deg!!” aku menangkap aroma duka dari sana. Setelah selesai dibisiki, Ayahku berdiri dan mengajak masuk Ibuku. Semua orang keheranan. Sebagian semakin yakin dengan firasat buruk mereka. Kerabat dekat tampak was-was. Lalu aku pun mengikuti langkah kaki Ayah Ibuku yang berayun masuk ke kamar mereka.

“Ayah apa yang terjadi?” aku langsung bertanya begitu berjumpa dengan wajahnya. Ayahku terdiam, Ibuku menangis.

“Ayah!” aku sedikit membentak. Ayah mencoba menghindari pertanyaanku dengan memalingkan muka pada pandangan yang tidak akan melihat sosokku.

“Ayah! Jawab aku!!” bentakan kali ini semakin keras dari yang awal kulakukan sambil menggoyang pundaknya yang lemas berayun. Akhirnya Ayahku menyerah. Bukan karena tidak tahan dengan sikap menggangguku itu, sebenarnya ia tidak mau memperlihatkan air matanya padaku. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia meneruskan pesan yang disampaikan kerabat calon istriku secara perlahan kepadaku.

“Thaar.!!” kenyataan itu kurasakan seperti petir yang menyambarku.

“Ternyata seperti yang kuduga”

Kuturunkan pegangan tanganku pada pundak Ayahku. Jatuhnya tangan ini bagaikan tidak dalam kendali otakku lagi. Aku limbung ke dinding kamar, disertai tangisan Ibuku yang semakin kencang. Ayahku terduduk di pinggiran kasur mereka.

Mungkin berpikir dosa apa yang telah dilakukannya sehingga terjadi hal demikian pada anaknya. Aku mematung, menatap nanar pada langit kamar.

“Apa salahku padamu Hayati? Hingga kau tega memperlakukan aku begini!!”

Kuputuskan untuk membawa pindah kesedihan ini dari kamar orang tuaku. Sebab kupikir sudah tidak seharusya di umur yang semakin renta mereka masih berjumpa dengan bentuk-bentuk kesedihan yang selama ini mereka hadapi. Kugenggam pegangan pintu bermaksud memutarnya kebawah dan keluar.

Namun aku tak mampu, seketika semua tenaga yang kubanggakan se-waktu remaja sirna. Akhirnya aku mendorong pegangan pintu itu dengan bantuan bagian tangan sejengkal anak-anak dari sikuku. Aku sudah keluar. Kini di hadapanku sudah terpampang wajah-wajah semi wartawan yang ingin bertanya kronologi kejadian dan merekamnya dalam memori mereka serta memberitakan kepada pemirsanya sore ini. Aku tak memperdulikan mereka.

“Mati sajalah kalian dalam kebingungan!. Biar kita rasakan bersama!” Aku bergumam geram.

Kubiak keremunan manusia itu yang jumlahnya tak lebih dari tiga puluh orang. Semua wajah mereka tampak seragam memandangku yang hanya bisa menunduk dan memaki dalam hati. Sebenarnya mereka sudah menangkap pesan yang tersirat dari gelagat kami sejak datangnya kerabat calon istriku. Namun untuk kebutuhan berita yang bermutu mereka mendesakku untuk menjawab.

Kini aku telah sampai di dalam kamarku. Berusaha tegar, dan tidak memanjakan kesedihanku dengan duduk tafakur. Aku bertahan dan tetap berdiri. Dengan berpegang pada bibir jendela. Kutatapkan wajahku menghadap cahaya sore yang redup. Dengan semakin lebatnya hujan yang turun menghantam bumi. Juga menghantam diriku. Menusuk setiap senti tubuhku.

“Ghailan!” Putra memanggilku dari kejauhan, aku pun memalingkan wajah kearahnya.

Dia pun berlari kecil mendekatiku.

“Aku ada kabar terbaru soal si Mara” Putra berkata padaku sambil sedikit ngos – ngosan.

“Informasi dari siapa lagi kamu dapat ini?” tanyaku.

Putra memang selalu antusias dengan berita yang berkaitan dengan seorang gadis yang satu kelas dengan kami, bernama Mara Hayati.

“Kali ini dari si Andes, adik kelas kita yang pernah satu kontrakan sama dia” jawab Putra.

“Malangnya nasibmu Mara, sudah kali keberapa aku mendengar kabar miring tentangmu”

Aku memang tak pernah langsung percaya begitu saja pada setiap berita yang di sampaikan orang lain. Sampai pada saat ini sudah banyak berita yang kudapatkan dari teman – teman tentang Mara Hayati. Mereka berkata bahwa dia simpanan lelaki hidung belang, wanita penggoda, sudah punya anak, dan berita lainnya yang mengarah pada sosok wanita tidak benar.“Hey.. kok malah melamun!” Putra membuyarkan lamunanku.

“Oh ya sampai mana tadi?” Aku memang sedikit ingin tahu, kali ini apakah memang berita terbaru.

“Si Mara Hayati itu katanya sudah menikah, tapi dia sengaja menutupinya dari semua orang. Berita ini juga di kuatkan sama si Ayu teman dekatnya dulu, si Ayu bilang dia pernah beberapa kali menemaninya ketemuan sama lelaki, tapi waktu ditanya sama Ayu siapa lelaki itu, dia bilang mereka hanya teman dekat” Putra menyampaikannya padaku dengan wajah serius seolah aku senang mendengarkan ocehannya.

“Memang apa untungnya bagimu Put?” lalu aku beranjak meninggalkan Putra menuju kelas.

“Aku cuma merasa kamu harus tahu ini Lan!” dari kejauhan Putra berteriak kepadaku. Wajar memang Putra berkata begitu padaku, sebab dia memang tahu aku menyukai Mara Hayati dari dahulu. Perempuan itu selalu mempesona bagiku. Memang kami cukup akrab di kelas maupun di luar kelas. Meskipun terkadang aku terganggu dengan segala kabar miring yang di sampaikan teman-temanku soal ciri-ciri fisik perempuan yang tidak perawan lagi, perempuan yang sudah melahirkan, dan perubahannya yang menggunakan pakaian tertutup untuk menutupi bentuk tubuhnya kini. Namun aku tetap tidak perduli.

Sore ini kami mengobrol seperti biasanya di taman kampus. Aku berniat menyampaikan semua berita miring itu kepadanya. Dengan segala persiapan agar aku tidak di benci setelah ini, dan kami bisa tetap dekat.

Aku sudah selesai dengan semua yang ingin kusampaikan kepadanya. Selama aku menyampaikan berita itu kepadanya dia tertunduk. Kuangkat wajahnya, ternyata dia menangis. Aku pun merasa bersalah, dan kuletakkan wajahnya pada dadaku, berharap dapat meredakan kesedihannya.

Dia pun mengakui hampir sebagian besar berita miring itu adalah benar, kecuali dia telah menikah. Dia menceritakan semuanya padaku. Bahwasanya dia pernah menjalin hubungan dengan seorang pengusaha, dan telah memiliki anak darinya. Namun kini lelaki beristri itu sudah tidak bisa diketahui keberadaanya. Tangisnya semakin menjadi-jadi setelah menyampaikan semuanya padaku. Air matanya tumpah ruah menenggelamkanku.

Aku sudah di kamar kontrakanku setelah mengantarnya pulang. Aku pun sudah berjanji padanya akan menikahinya setelah tamat kuliah. Dan dia pun sangat bahagia mendengar janjiku itu. Aku memang tidak menganggap perempuan sebagai makhluk yang hina, kotor, penggoda, lebih rendah dan lain sebagainya. Sebaliknya aku menganggap mereka adalah ciptaan-Nya yang mulia dan setara dengan laki-laki. Yang bukan sekedar berada di sumur, dapur dan kasur. Hingga habis kesabaranku untuk tidak mengumpat dalam hati pada lelakinya itu.

“Dasar lelaki biadab!!, pandai betul kau merayu gadis, merampas hartanya, setelah itu kau tinggalkan dia menangis dan terluka! Rayuanmu itu memang selalu ampuh buat perempuan perawan yang belum berpengalaman soal lelaki! Di sanalah kau memulai kerjamu, dan kini lihat hasil perbuatanmu itu! Seorang anak lahir tanpa tahu siapa Bapaknya!! Biadab..! Sungguh biadab kau…!!”

Memang aku tak akan puas mengumpat lelaki biadab itu, aku akan puas jika sudah mendaratkan tinjuku pada muka binatangnya itu. Muka lelaki yang memandang rendah perempuan, mempermainkan mereka sesuka hatinya. Benar memang, lelaki adalah hamba nafsunya, sedangkan perempuan adalah tawanan perasaan kasih sayangnya.

Aku masih berada di kamarku, setelah meninggalkan segala hiruk pikuk di luar ruangan ini yang menyiksaku. Aku selalu merasa aman pada tempat ini, karena tak ada yang melihatku, memandang hina padaku, dan aku pun tidak melihat-mendengar mereka. Sejak tadi aku menahan diri untuk tidak mengumpat perempuan itu. Namun aku sudah kehilangan kesabaran.

“Dasar pelacur kau Mara Hayati! Kali ini kau lari dengan siapa! Tidak kau lihat aku kini menderita karenamu!! Kau lupa padaku, setelah kuangkat kau dari lembah hina itu! Setelah kumuliakan kau! Kuterima kau setelah dikunyah-dimuntahkan lelakimu itu!! Namun begini pembalasanmu padaku! Kau tak kalah biadabnya dengan lelakimu itu! Ternyata kalian sama saja!! Sama-sama biadab! Biadab…!!!

Aku lelah, kurebahkan tubuhku pada kasur yang tak pernah menolakku. Itulah mengapa aku menyukai benda mati ketimbang manusia. Seminggu setelah hari pernikahanku yang gagal. Kerabatnya itu datang lagi padaku. Aku menolak kedatanganya. Kupersilahkan kerabatnya itu pulang sebelum kutinju mukanya. Lalu dia bergegas pulang, dia tidak ingin oleh-oleh tinjuku ternyata. Setelah hari berdarah itu, aku selalu mengurung diri di kamar. Tak pernah terpikir olehku ini akan terjadi padaku. Niatku menikahinya tulus, bukan karena rasa kasihan padanya.

Aku benar-benar mencintainya. Keesokan harinya kerabatnya datang lagi saat aku tidak dirumah. Kali ini dia lebih menggunakan otaknya. Dia menemui Ayah Ibuku, dan menitipkan surat untukku.

“Pintar juga dia, menghindari tinjuku ternyata” pikirku setelah menerima surat darinya.

Teruntuk Ghailanku sayang.. aku terkejut setelah kubaca tulisan di depan amplop surat, ternyata ini bukan darinya, tapi dari wanita jalang itu!. Aku lalu melemparkannya sekuat tenaga.

“Hah!.. Apalagi yang mau kau jelaskan padaku wanita jalang!! Kau selalu mencari pembenaran dari semua perbuatanmu!!” Namun aku penasaran dengan isi tulisannya. Kupungut kembali dan kubaca. Ghailanku sayang.. Dirimu tahu aku selalu mencintaimu.. sebelumnya tertulis tanggal surat sehari sebelum hari pernikahan kami.

Dan aku juga tahu kamu selalu mencintaiku.. Aku menulis surat ini bukanlah untuk mengemis maaf darimu, sebab aku tak pantas di maafkan.. Tapi, simpan dahulu amarahmu sayang, dengarkanlah aku, aku hanya tak ingin membuatmu menderita..Tahukah kamu arti namaku sayang? Ada dua arti namaku, bisa diartikan kehidupan yang maju, bisa juga diartikan bencana kehidupan. Meskipun aku tidak tahu arti yang mana yang cocok padaku. Yang pasti aku tak ingin menjadi bencana bagi kehidupanmu, dan jika pernikahan ini kita lanjutkan maka aku merasa akan begitu.

Aku tidak ingin kamu bersedih sayang, aku tidak ingin menjadi beban. Sebab aku akan menyulitkanmu, setelah hari-harimu mengurusi pekerjaan. Telingamu akan panas, hatimu akan terbakar, otakmu akan mendidih karena aku selalu jadi bahan cemoohan orang – orang. Aku tak ingin itu sayang. Aku sungguh sangat mencintaimu sayang..

Aku pergi dengan anakku sejauh mungkin darimu, jangan cari aku. Berdoalah agar kami baik-baik saja, dan aku akan mendoakanmu mendapatkan kehidupan yang pantas. Dari kekasihmu, Mara Hayati.

Aku terduduk lemas. Tanpa kusadari air mataku mengalir cukup deras. Segala umpatanku kusesali, aku menangis sejadi-jadinya. Sambil kupeluk erat-erat surat darinya. Tiba-tiba aku tertegun setelahnya. Ada yang mengganjal di pikiranku.

“Jangan-jangan! Hayati, kamu…”

Penulis : Dicky Irwanda (Mahasiswa FT UMA)