CerpenHeadlines

Cerpen : Kisah Penghuni Bumi (Part 2)

46 Views

Medanesia.com – Karena manusia adalah kebijaksanaan yang diciptakan Tuhan untuk menjaga persekawanan ini maka akupun tidak begitu ambil pusing, karena aku percaya kalau mereka itu bijaksana. Semakin hari manusia semakin aneh tingkahnya, dia memakan tumbuhan yang masih hijau, lalu mulai memakan binatang dan mulai memahat gunung untuk kenyamanan kehidupan mereka, lalu tanpa kami sadari kepercayaan teman-teman dengan manusia telah hilang ketika manusia memakan binatang dengan sangat banyak, tak lagi tinggal digunung dan menebang pohon sebagai teduhan mereka, ditambah lagi mengikis gunung untuk menghiasi teduhan mereka.

Lalu aku bercerita dengan malaikat dan setan tentang kejadian ini, kami juga kebingungan kenapa manusia yang kata Tuhan akan menjaga persekawanan ini dengan kebijaksanaannya malah membuat teman-teman merasa dihianati dengan persekawanan ini, malaikat mendengar curhatan tumbuhan bahwa mereka dibunuh untuk memenuhi kebutuhan teduhan manusia selain itu juga gunung-gunung bercerita kalau ia mulai kehilangan kakinya dan hampir rubuh sementara setan mendapatkan keluhan dari binatang yang didarat dan di air bahwa mereka mulai diburu dan dikonsumsi oleh manusia. Kami bingung untuk menemukan solusi untuk masalah ini, selain itu juga kami tidak berani bercerita kepada Tuhan persoalan ini. Ternyata Tuhan mendengar curahan hati dan kebingungan kami, dipanggil-Nya kami untuk menghadap,”manusia yang kita bicarakan pada awal penciptaannya kemarin adalah dengan kebijaksanaan, namun pada kenyataannya menciptakan kondisi tidak tenteram bagi seluruh penghuni bumi, namun apakah semua manusia melakukan itu (tanya Tuhan kepada kami)” kami diam seribu bahasa tak berani menjawab.

Lalu Tuhan melanjutkan, “manusia berkembang dan saat ini jumlahnya banyak sekali, dan percayalah tidak semua manusia itu berhianat kepada teman-temannya” kami masih diam dan mendengarkan, “kalian Aku tugaskan memilih dan memilah mana manusia yang masih bijaksana dan mana yang sudah tidak bijaksana lagi”, kami mengangguk dengan takut dan penuh semangat sembari berharap masih ada manusia bijaksana yang berteman baik dengan persekawanannya.

Malaikat kembali bertanya kepada pohon dan gunung untuk memilih dan memilah mana saja manusia yang masih bijaksana dan tidak, setan bertanya kepada seluruh binatang, aku turun ke bumi dengan menyeluruh, aku sangat terkejut dengan sikap manusia, manusia mengeluh dengan kehadiranku bahwa aku menyebabkan jemuran manusia tak kering, aku menyebabkan banjir, aku menyebabkan mereka basah dan dengan segala sumpah serapah yang terus terucap sehingga membuatku menangis.

Namun ada cerita yang berbeda di lain tempat, ternyata tak semua begitu, masih ada beberapa kelompok manusia yang bercerita kepada tumbuhan disekitar teduhannya bahwa dia berterimakasih karena sudah lama tumbuhannya tak minum, manusia yang bercerita dengan ikan-ikan di genangan lebar dekat belakang rumahnya yang hampir mati karena hampir kehilangan tempat hidupnya, dan tanpa memperdulikan jemurannya tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah kuyup dan hampir demam, sekelompok manusia itu menangis haru karena bahagia, ternyata masih ada yang bijaksana, tak kuasa aku meneteskan lagi air mataku, dan air mataku yang keluar bercampur antara air mata bahagia dan air mata kesedihan.

Kuceritakan ini kepada Tuhan, lalu malaikat dan setanpun memberikan pernyataan yang hampir mirip bahwa ada banyak manusia yang sudah tidak lagi bijaksana namun tidak semuanya, masih ada beberapa kelompok manusia yang masih bijaksana walaupun sedikit, lalu Tuhan mengambil keputusan, “kau (menyebutku) saat ini kau hanya boleh menjelma sebagai hujan, kau turun dengan kadar yang banyak untuk seluruh penghuni bumi, lalu kau pilih dan pilah mana yang bersyukur dan tidak, setelah itu kau berikan yang bersyukur secukupnya dan untuk yang tidak bersyukur terserahmu mau kau berikan sebanyak-banyaknya atau tidak sama sekali, untuk mengajarkan mereka caranya bersyukur dan kembali menjadi bijaksana,” aku mengangguk tanda mengiakan perintah-Nya.

Maka saat ini setelah berjuta-juta tahun lamanya, aku tau mana manusia yang bijaksana dan tidak, yang mengumpatku akan aku hujani sebanyak-banyaknya atau aku tidak hujani sama sekali di tempat mereka, terbukti ada yang menjadi bijaksana dan menjaga persekawanan, adapula yang tidak dan semakin menjadi-jadi umpatannya kepadaku, kalau manusia bersyukur dan menjadi bijaksana dengan cara menjaga persekawanan antar penghuni bumi, maka aku akan turun secukupnya (tidak berlebihan dan tidak kekurangan) namun bagi yang tidak bersyukur dan tidak bijaksana aku akan perlakukan kalian dengan sesuaku, karena itu adalah perintah Tuhan kepadaku.

Penulis : Chairul Achmad Fikri (Direktur Divisi Advokasi dan Hukum Institut Kolektif)