HeadlinesKelas FilsafatPolitik

Serial Diskusi Kepemimpinan : Krisis Kepemimpinan (Part 3)

46 Views

Medanesia.com – Apakah yang dimaksud dengan krisis kepemimpinan? Krisis kepemimpinan maksudnya kita tak punya pemimpin yang kita butuhkan. Saat kita mau beli sesuatu, kita tak punya uang. Secara formal banyak lahir pemimpin dari proses demokrasi ataupun tidak, namun secara substansial kita tak memperoleh apa-apa dari perbuatan pemimpin. Meski hari ini terdapat enam ratusan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, Walikota) dan terdapat ribuan pimpinan perusahaan di seluruh Indonesia, namun sejumlah masalah demi masalah senantiasa muncul tanpa dapat dicegah. Bahkan antara pemimpin dengan yang dipimpin yang mestinya seiring sejalan justru tidak jarang terjadi konflik ataupun benturan.

Ternyata, kita selama ini punya pemimpin namun krisis secara “kepemimpinan”. Dari seorang pemimpin yang kita butuhkan tidak sekedar kecerdasan, keturunan bangsawan, berasal dari keluarga kaya, ketampanan, dan tampilan dengan jubah dan baju yang yang memukau. Lebih dari itu, yang kita butuhkan adalah seni, philosofi/kebijaksanaan, contoh/keteladanan, tanggungjawab/pasang badan, dan ketrampailan yang mumpuni. Pasukan akan mati ditangan pemimpin yang lari dari medan pertempuran.

Adalah fakta kita memiliki banyak pemimpin bahkan berganti secara regular setiap waktu. Namun dari semua pemimpin itu hanya sedikit yang memiliki kepemimpinan. Kita juga memiliki ratusan kepala daerah, namun hanya sedikit sekali yang memiliki mental sebagai negarawan. Kita ternyata hanya mampu melahirkan pemimpin sebagai pejabat atau jabatan belaka, namun kita belum mampu melahirkan pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang bijaksana yang mampu memberikan jalan keluar terhadap masalah yang ada.

Hari ini kita baru pada tahap melahirkan pemimpin secara prosedural belaka, namun kita belum mampu melahirkan kepemimpinan yang substansial. Yaitu kepemimpinan yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab, semata merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan hanyalah berharap ridha dari Tuhan yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang substansial tentu saja meletakkan kepentingan anggota/ masyarakat/ bangsa diatas semua kepentingan pribadi dan kelompok atau golongan. Mental para pemimpin substansial tentu saja adalah mental kenegarawanan yang sejati yang mencintai bangsanya dengan sepenuh jiwanya. Pemimpin yang substantif adalah pemimpin yang sanggup mengorbankan harta dan jiwanya untuk bangsanya, bukan sebaliknya mengorbankan bangsanya untuk kepentingan dirinya.

Penulis : H. Dadang Darmawan Pasaribu, M.Si (Peneliti Ahli Institut Kolektif, Dosen FISIP UMA)

Baca Artikel Part Lainnya, Klik Serial Diskusi Kepemimpinan