HeadlinesKelas FilsafatPolitik

Serial Diskusi Kepemimpinan : Demokrasi (Prosedural, Tidak Substansial) (Part 4)

50 Views

Medanesia.com – Pengalaman Indonesia, demokrasi sebagai suatu sistem yang mempersyaratkan kebebasan (individual), kesetaraan/persamaan, dan persaingan dalam memilih pemimpin, ternyata banyak gagalnya dalam melahirkan kepemimpinan yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Sudah 74 tahun cita-cita mewujudkan “bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” belum terealisir ditangan pemimpin nasional dan daerah. Demokrasi sebagai suatu sistem yang banyak dianut dibanyak negara di dunia, kini banyak dipertanyakan efektifitasnya dan dampaknya.

Ada kesan, banyak negara melakukan proses demokrasi secara prosedural dengan begitu baik dan biaya yang mahal namun tidak menghasilkan kepemimpinan yang berdampak baik bagi masyarakat. Pada setiap perhelatan Pemilu semua syarat terpenuhi mulai dari aturan main, metode, pelaksana (KPU), pengawas (Bawaslu), pemantau luar/asing, fasilitator (Pemerintah), peserta (Parpol/Perseorangan) sampai keamanan. Namun, dalam prakteknya sejumlah masalah terus menerus terjadi dan tidak teratasi.

Dengan demokrasi secara prosedural dan jauh nilai-nilai etika-moral, maka demokrasi hanya dimanfaatkan para calon menjadi ajang “mendapat suara terbanyak” saja, bukan mencari “dukungan”. Banyak penelitian membuktikan, bahwa pemilih tidak mendukung mereka yang menggunakan politik uang, tapi kenyataannya pemilih menerima uang dan memenangkan mereka yang punya uang. Artinya bagi para calon pemimpin, tak penting pemilih mendukung mereka atau tidak, suka atau tidak, yang penting pemilih memilih mereka.

Tanpa kita sadari prosedural demokrasi mendorong terbentuknya sikap pragmatis dan oportunis ditengah-tengah para calon, yang semakin menjauhkan dari sikap-sikap bijaksana dan kesatria. Para calon paham betul, bahwa untuk menang mereka cukup mendapatkan suara terbanyak, itu saja. Orientasi seperti ini semakin kuat, karena dalam prakteknya mendapat dukungan dari partai politik dan juga dari pemilih itu sendiri. Selama bertahun-tahun partai politik di Indonesia bahkan di dunia tidak tumbuh secara ideologis tetapi tumbuh semakin pragmatis, akibatnya fungsi partai tidak lagi melakukan pendidikan kepada masyarakat (pemilih) melainkan sesungguhnya melakukan pembodohan. Dari perilaku partailah pemilih belajar sikap-sikap pragmatis, sikap-sikap transaksionis, sikap-sikap tidak berkeadilan.

Penulis : H. Dadang Darmawan Pasaribu, M.Si (Peneliti Ahli Institut Kolektif, Dosen FISIP UMA)

Baca Artikel Part Lainnya, Klik Serial Diskusi Kepemimpinan